Teliti Tinggalan Arkeologi Bawah Air, Balarsumut Telusuri Jejak Budaya Maritim Di Provinsi Kepulauan Riau

Hits: 26

Kepulauan Riau yang wilayahnya sebagian besar laut, termasuk perairan bagian utara Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga. Keduanya merupakan wilayah perairan yang sangat strategis dari dulu hingga sekarang. Wilayah perairan tersebut memiliki potensi tinggalan arkeologi bawah air yang terkait dengan jejak budaya maritim di Provinsi Kepulauan Riau, dan Indonesia secara umum. Berdasarkan kegiatan peninjauan jeluh (sampan besar) ke Pulau Sebangka, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga tahun 2020 serta melanjutkan penelitian tahun 2018 — 2019 di Pesisir utara Pulau Bintan, maka penelitian berkenaan dengan tinggalan bawah air sebagai jejak budaya maritim di Provinsi Kepulauan Riau dilaksanakan dan dipimpin oleh Peneliti Ahli Muda, Stanov Purnawibowo. Pelaksanaan kegiatan dimulai dari tanggal 21 Agustus hingga 13 September 2021.  

Pelaksanaan penelitian diawali dengan ekskavasi jeluh di muara sungai Gerudi, Dusun Pulau Gelombang, Desa Laboh, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga. Disusul kemudian dengan mencari konteks temuan jeluh tersebut dengan cara menelusuri aliran sungai Gerudi dan Bukit Pulau Gelombang untuk mencari jejak arkeologis lainnya di wilayah tersebut. Survey di bukit Pulau Gelombang menemukan sisa dapur gambir berupa parit inlet air tawar, kolam penampungan air tawar, bekas tungku masak, fragmen wajan logam, keramik, tembikar, dan botol kaca dari masa awal XX Masehi.

                                                   

Gambar 1. Proses ekskavasi dan pemindahan jeluh

Kegiatan berikutnya adalah membawa jeluh ke museum Linggam Cahya di Daik Lingga. Setelah disimpan di museum, selanjutnya diadakan proses serahterima jeluh dari kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara kepada Bupati Kabupaten Lingga. Sambil menunggu proses serah terima, dilakukan juga penjaringan informasi keberadaan sisa perahu lama yang ada di daratan Daik Lingga, berdasarkan temuan fragmen mesin uap yang disimpan di Museum dan sisa jangkar kapal di rumah penduduk. Lokasi deposisi kapal lama yang telah berada di daratan tersebut berada di sekitar aliran Sungai Kemuning.

Setelah menghimpun data di Daik Lingga, tim penelitian melakukan survei bawah air di perairan Rusuk Buaya. Hal tersebut dilakukan berdasarkan informasi adanya lokasi shipwreck dari masyarakat lokal. Masyarkat lokal mengetahui lokasi ini karena mereka biasa melakukan penyelaman kompresor untuk memasang bubu atau perangkap ikan. Menurut masyarakat lokal pada lokasi ini terdapat shipwreck yang masih utuh karena pada lokasi ini terdapat banyak peluru, sehingga  masyarakat tidak berani mengambil atau mengusik shipwreck ini. Untuk perkiraan identitas shipwreck ini diperoleh informasi adanya plakat nama kapal yang bertuliskan Dragonfly. Setelah dilakukan penelursuran pada internet kapal dengan nama Dragonfly merujuk pada kapal HMS Dragonfly. HMS sendiri merupakan jenis kapal perang yang digunakan oleh armada angkatan laut britania raya. Dalam penelusuran internet HMS Dragonfly tenggelam pada perairan Rusuk Buaya atau Selat Bangka pada 14 Februari 1942 karena serangan udara. Pada saat pelaksanaan penelitian lokasi yang yang diinformasikan tidak bisa dilakukan penyelaman karena faktor keamanan. Pada bulan September angin barat sudah mulai muncul, sehingga gelombang atas cukup tinggi dan membahayakan, dan arus bawah juga terlalu kuat untuk dilakukan penyelaman. Selain itu jarak pandang juga hanya 1-2 meter saja. Sehingga penyelaman pada lokasi ini belum dapat dilaksanakan.

Dikarenakan kondisi perairan Rusuk Buaya tidak kondusif, kegiatan akhirnya dipindahkan ke situs Senggiling, di Kabupaten Bintan. Lokasi berada di kedalaman 8-11 meter, pada dasar laut berpasir yang berada di antara koloni karang dengan substrat berupa batuan granit. Kondisi awal situs sebelum dilakukan penggalian berupa gundukan dari akumulasi muatan kapal yang tersebar secara acak dan didominasi oleh ubin terakota berbentuk persegi, balok-balok batu, dan pecahan keramik. Lokasi situs telah teraduk oleh penjarahan. Sementara untuk benda-benda yang masih in-situ umumnya adalah benda-benda berukuran besar, seperti balok-balok batu berprofil persegi panjang dan melengkung.

Proses tersebut telah menyingkap bagian papan lambung kapal sebanyak 5-6 susun yang membujur dengan orientasi 120°-300° (kebetulan orientasi baseline sejajar dengan orientasi papan lambung kapal) serta bagian gading kapal dengan orientasi 30°-210°. Papan lambung kapal yang tersingkap memiliki lebar 30 cm, tebal 3-4 cm, dan panjang area yang tersingkap adalah 8 meter. Sementara gading-gading kapal memiliki ukuran lebar dan tebal sekitar 23 cm serta panjang bagian yang tersingkap adalah 2 meter.

                                 Gambar 2. Aktivitas pengambilan data dan struktur kayu perahu lama di situs Senggiling

Berdasarkan hasil penelitian telah dilaksanakan di dua wilayah perairan Provinsi Kepulauan Riau ragam bentuk tinggalan arkeologi bawah air berbentuk perahu mulai berbahan kayu hingga logam. Bentuk tinggalan perahu tersebut merekam jejak teknologi pembuatannya, mulai dari yang sederhana berbahan kayu hingga yang perahu berteknologi Eropa. Periodisasi perahu yang paling awal masih menunggu hasil RC14 dan hasil analisis laboratoris bagi kayu dari Sebangka dan Senggiling. Untuk pola sebaran tinggalan bawah air di Kabupaten Lingga, banyak tersebar di wilayah antara kepulauan Lingga dan daratan Sumatera (Selat Bangka). Adapun pola sebaran tinggalan arkeologi bawah air di pesisir utara Pulau Bintan yang berada di wilayah perairan Sumpat, lokasi perahu tenggelam dengan muatannya tersebar mulai dari Pulau Sumpat di Desa Pengudang hingga ke wilayah Lagoi di bagian baratnya, dengan jumlah lokasi 6 titik yang jaraknya tidak berjauhan sekitar mulai dari 0-10 Km atau 0-5 nm (nautical mile) dengan kedalaman maksimal 15 meter dan jarak ke pantai sekitar 100 hingga 1000 meter yang berada di Selat Singapura. Identifikasi periodisasi tinggalan bawah air berasal dari masa abad ke-12 hingga abad ke-20 M.     

Perbandingan bentuk struktur perahu kuna yang ditemukan sangat bervariasi. Mulai dari berbahan kayu tunggal, berbahan kayu papan dan gading disambung pasak kuningan, berbalut copper berbahan kuningan tanpa mesin, hingga struktur perahu berbahan logam dan bermesin uap dari awal abad ke-20. Analisis morfologi struktur kayu didapatkan melalui hasil pengukuran dan penggambaran visual yang dibantu dengan pengambilan gambar fotogrametri. Sehingga dapat dilakukan perbandingan bentuk struktur perahu lama, khususnya yang berbahan dari kayu. Untuk struktur perahu lama berbahan logam, belum bisa dilakukan karena terkena cuaca buruk di perairan Lingga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *