Tim Balar Sumut Telusuri Batu Bertulis Liang Datu Ronggur Di Desa Simare Huta Natinggir

Hits: 959

Medan, Berdasarkan laporan masyarakat tentang temuan beberapa pahatan berbentuk manusia, dan aksara yang tidak dapat terbaca kepada Dinas Kebudayaan Balige yang diteruskan ke Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Utara, Tim dari Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Utara (selanjutnya disingkat menjadi Balar Sumut) dipimpin langsung oleh Kepala Balar Sumut, Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si beranggotakan Churmatin Nasoichah, S.Hum, Defri Elias Simatupang, M.Si, Andri Restiyadi, MA., Tony Sitorus, Rudy Hartono, dan Anwar Bahri melakukan peninjauan di Desa SImare Huta Matinggir pada 11-14 Desember 2021.

Untuk sampai di lokasi dari tempat tim menginap, membutuhkan sekitar 2 jam perjalanan darat atau sekitar 17,5 km ke Desa Simare Huta Natinggir. Mulai dari jalan beraspal mulus, jalan berlubang, sampai dengan jalan berbatu harus dilalui untuk sampai di desa tersebut. Pohon eucalyptus (Eucalyptus melliodora) yang dikelola oleh PT. Toba Pulp Lestari, tampak berderet di tepi jalan berbatu yang dilalui. 

Sesampainya di rumah Tomu Pasaribu, Raja Huta Natinggir, rombongan disambut oleh masyarakat hukum adat Natinggir. Sebelum meninjau ke lokasi batu bertulis, tim menyempatkan diri untuk berbincang dengan masyarakat hukum adat Natinggir berkaitan dengan informasi tentang batu bertulis tersebut. Siang itu sekaligus menikmati hidangan makan siang yang sudah disediakan oleh masyarakat hukum adat Natinggir. Pada awalnya kami hendak meninjau ke lokasi siang itu juga, tetapi dihimbau oleh masyarakat, sebaiknya berangkat di sore hari. Adapun alasan untuk berangkat sore hari karena di lokasi tersebut banyak sarang lebah. Diceritakan bahwa Liang Datu Ronggur sampai saat ini diyakini oleh masyarakat hukum adat Natinggir sebagai salah satu tempat yang mereka sakralkan sebagai petilasan Datu Ronggur, tepatnya tempat pertapaan Datu Ronggur.

Salah seorang tetua masyarakat adat Natinggir mengatakan, “di tempat itu, di dalam liang itu ada mata air yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Liang itu juga zaman dulu digunakan untuk menyimpan senjata, dan tempat bertapa leluhur-leluhur kami dulu.”

Salah satu anggota komunitas pecinta budaya yang turut hadir pada saat itu menambahkan, “terakhir kali kami ke sana, ada juga mangkok-mangkok keramik berwarna putih. Mungkin itu tinggalan orang-orang yang bertapa di tempat itu dulu.”

Informasi yang didapatkan pada pertemuan itu semakin menambah kuat niat tim untuk meninjau ke lokasi. Pada kesempatan itu, kami juga ditunjukkan silsilah keluarga Pasaribu Gorat yang mendiami wilayah tersebut.

Siang itu, tim kami diajak oleh masyarakat setempat untuk meninjau keberadaan parhutaan na jolo (perkampungan lama) dan makam-makam leluhur di sekitar rumah Tomu Pasaribu. Parhutaan na jolo Natinggir saat ini masih menyisakan harbangan atau gerbang masuk dan parik atau pagar kampung lama. Parik yang dimaksud berupa gundukan tanah yang berbentuk bidang tak beraturan dengan pintu gerbang di bagian barat yang sudah ditumbuhi oleh pohon. Lebih kurang 100 m di arah barat terdapat kompleks makam lama berupa tanah yang ditinggikan lebih kurang 75 cm, berbentuk persegi panjang yang dianggap sebagai makam para leluhur masyarakat adat Natinggir. Kami mencatat tidak hanya satu makam saja di lokasi tersebut, melainkan puluhan makam. Makam-makam tersebut serupa tetapi memiliki ukuran yang berbeda-beda. Saat ini kondisi makam-makam tersebut tertutupi oleh ilalang dan pohon-pohonan perdu sehingga sulit untuk mengidentifikasi jumlah dan luasan kawasannya.

Selepas makan siang, tim berangkat ke lokasi batu bertulis. Perjalanan ke lokasi yang berjarak kurang lebih 3 km ke arah barat kami tempuh dengan kendaraan roda empat. Kami didampingi oleh Kepala seksi pelestarian cagar budaya, permuseuman, dan tradisi, Friska Hutagalung, anggota komunitas pecinta cagar budaya Huta Natinggir, dan beberapa anggota masyarakat setempat. “Kita lanjut dengan jalan kaki,” kata seorang warga masyarakat. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki selama kurang lebih 1,5 jam. Jalur yang kami lewati cukup terjal dan curam dengan kemiringan sekitar 30°–45°. Kami juga harus menyeberangi Aek Simare yang berair jernih dan berlantai batu-batu sedimen berwarna kuning kecokelatan yang berukuran besar. Ditambah lagi pada waktu itu langit menitikkan gerimis yang menambah licin jalan setapak yang kami lalui.

Setibanya di mulut gua, pada atap gua terdapat puluhan sarang lebah madu. “Disini sering diambil madunya, kalau ada warga masyarakat yang berani naik ke atas,” kata seorang warga masyarakat. Di tempat itu masih dapat dilihat tangga, tali tambang, dan pakaian plastik untuk menambang lebah madu. “Ini, tulisannya di sini,” kata seorang anggota komunitas seraya menunjukkan jarinya ke arah batu besar yang ada di mulut gua. Kami melihat di permukaan batu besar tersebut dipahatkan aksara-aksara dan gambar-gambar yang cukup dalam. Sekilas, gambar yang ada pada batu tersebut merepresentasikan figur laki-laki dan perempuan. “Ini menarik. Ada aksara Batak kuno dan Sumatera Kuno,” kata Epigraf kami, Churmatin Nasoichah, S.hum. yang langsung mengidentifikasi bentuk aksaranya (paleografi). Oleh karena rintik hujan yang semakin rapat dan deras, kami harus bergerak cepat untuk mendokumentasikan temuan tersebut melalui catatan, foto, dan video. Setelah diamati lebih lanjut, ternyata aksara tersebut tidak hanya dipahatkan pada satu sisi batu saja, melainkan pada ketiga sisinya. “Sampai saat ini, temuan ini adalah satu-satunya aksara Sumatera Kuno yang dijumpai di kawasan Toba,” kata Churmatin Nasoichah, S.Hum. “Biasanya kita hanya temukan aksara Batak Kuno yang dituliskan di pustaha. Ini ada campuran aksara Sumatera Kunonya,” lanjutnya.

Temuan prasasti beraksara Batak Kuno dan Sumatera Kuno di Liang Datu Ronggur, Desa Simare Huta Natinggir merupakan temuan awal yang langka dan menarik. Keberadaan aksara Sumatera Kuno pada prasasti berbahasa dan beraksara Batak Kuno memang masih menyisakan tebaran pertanyaan yang menggugah semangat penelitian lebih lanjut. Kenapa digunakan aksara Sumatera Kuno dan aksara Batak Kuno yang dipahatkan dalam satu prasasti ? Apakah prasasti tersebut lebih tua dari aksara Batak Kuno yang terdapat dalam pustaha Laklak ? Apakah hubungan prasasti tersebut dengan prasasti-prasasti beraksara Sumatera Kuno yang terdapat di bagian selatan Sumatera Utara ? Dan masih banyak lagi permasalahan-permasalahan lain yang perlu ditindaklanjuti. Selain itu, adanya laporan masyarakat tentang temuan arkeologis di wilayahnya merupakan sebuah tindakan awal bagi adanya tindak lanjut dan sinergi yang baik antarstakeholders, dalam hal ini institusi pemerintah pusat, daerah, komunitas pecinta budaya, dan masyarakat adat setempat.

Tim Peninjauan

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *