TIM BALAI ARKEOLOGI SUMATERA UTARA LAKUKAN PENELITIAN UNGKAP MISTERI BIARA PEMBAKARAN, KOMPLEKS BIARA SANGKILON, KABUPATEN PADANG LAWAS

Hits: 206

Penelitian bertemakan arkeologi lansekapyang dilakukan di kompleks Biara Sangkilon pada tanggal 7—31 Juli 2019 ini dipimpin oleh Andri Restiyadi, MA. Biara Sangkilon terletak di Desa Sangkilon, Kecamatan Lubuk Barumun, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara. Pada penelitian tahun ini, Balai Arkeologi Sumatera Utara turut melibatkan beberapa stakeholdersyaitu Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh (BPCB Aceh), Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Lawas, Dosen dan Mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Jambi, dosen geomorfologi Universitas Negeri Medan (UNIMED), serta masyarakat setempat.

Kompleks Biara Sangkilon saat ini menyisakan empat buah gundukan runtuhan bata, yang dikelilingi oleh pagar keliling berbentuk persegi yang berupa runtuhan. Kompleks biara tersebut diberi pagar kawat sebagai batas sekaligus pengamannya. Walaupun demikian, biara Sangkilon telah mengalami penggalian liar pada batur sisi selatan yang menyisakan sebuah lubang berbentuk persegi sedalam tiga meter. Hal yang sama juga terjadi pada Biara Pembakaran yang terletak sekitar 500 meter di sebelah baratlaut Biara Sangkilon. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun pada penelitian sebelumnya, rentang masa pemanfaatan kedua biara ini diperkirakan berlangsung dari abad XI—XIV Masehi. Rentang masa yang sama seperti biara-biara yang terdapat di Kabupaten Padang Lawas dan Padang Lawas Utara lainnya seperti, Biara Sipamutung, Bahal 1, 2, 3, dan Tandihat (Si Joreng Belangah).

Ekskavasi arkeologi yang dilakukan di Biara Pembakaran (foto oleh Johan, 2019)

Menuju Biara Sangkilon dari Kota Sibuhuan berjarak sekitar 9,5 km. Tidak terdapat papan nama menuju kompleks biara ini dari jalan raya Sibuhuan—Gunung Tua. Dari jalan tersebut masuk ke arah pertigaan Desa Janji Lobi Lima ke arah perkebunan karet dan kelapa sawit sekitar 1, 5 km dan dapat dilalui dengan kendaraan roda empat. Sampai di situ, masuk ke perkebunan kelapa sawit dengan jalan kaki atau kendaraan roda dua sejauh 2 km untuk dapat mencapai Kompleks Biara Sangkilon. Lingkungan di sekitar Biara Sangkilon saat ini berada tepat di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit milik warga masyarakat.

Baik Biara Sangkilon maupun Pembakaran berada di antara Sungai Barumun dan Sangkilon. Penelitian arkeologi yang dilakukan pada situs ini telah berlangsung sejak tahun 2013, 2014, 2018, dan 2019. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2019 ini telah membuka 17 kotak ekskavasi dengan ukuran bervariasi mulai dari 1 m x 1 m, sampai dengan 4 m x 4 m yang terpusat di Biara Pembakaran. Sesuai dengan judul penelitian yaitu, Lansekap Bangunan Suci Biara Sangkilon Abad XI-XIV Masehi, Kawasan Kepurbakalaan Padang Lawas Bagian Selatan, tujuan dari penelitian ini adalah memahami konstelasi keruangan Biara Sangkilon dan sekitarnya, terutama berkaitan dengan relasi antara bentang lahan natural dan kultural.

Tampak atas Biara Sangkilon hasil foto udara (foto oleh Johan, 2019)

Terpusatnya ekskavasi di Biara Pembakaran setidaknya berdasarkan pada tiga alasan. Pertama belum jelasnya bentuk, kedudukan, dan fungsi Biara Pembakaran itu sendiri, kedua penggalian liar yang dilakukan oleh oknum masyarakat pada biara ini, dan ketiga adanya tradisi oral tentang penamaan Biara Pembakaran dari masyarakat setempat yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Diceritakan oleh Bapak Ali Nasution, salah seorang Juru Pelihara Biara Sangkilon, “Kata orang-orang tua dulu, di tempat inilah orang-orang yang bangun biara itu tinggal,” kata beliau seraya menunjuk lokasi di sekitar Biara Pembakaran. “Nah, kalau ada orang itu mati, mayatnya dibakar di biara ini,” lanjutnya. Sepenggal cerita oral yang diturunkan turun-temurun tersebut memang cukup menarik untuk dikaitkan dengan tradisi pembakaran mayat masyarakat Hindu-Buddha masa lampau. Bahkan, ketika pertama kali dilakukan penelitian dilakukan di Biara Pembakaran, masyarakat setempat tampak ketakutan dan enggan menuju lokasi oleh karena tradisi oral tersebut. Selain itu, diungkapkan leh Ibu Robiah, salah seorang warga masyarakat, “Dulu ada dukun yang muntah darah dan mati gara-gara mau mengambil harta pusaka di tempat ini,” ujarnya. Walaupun demikian, “Sampai dengan akhir penelitian,” kata Andri Restiyadi, M.A. selaku ketua tim ekskavasi, “Kami belum mendapatkan bukti terkait adanya aktivitas pembakaran mayat di sekitar Biara Pembakaran.”