Tim Balai Arkeologi Sumatera Utara Kembali Teliti Biara Sangkilon, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara

Hits: 123

Tim Balai Arkeologi Sumatera Utara, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang dipimpin oleh Andri Restiyadi, MA. pada tanggal 21 Oktober—9 Novermber 2018 ini mengadakan penelitian arkeologis di Kompleks Biara Sangkilon, Desa Sangkilon, Kecamatan Lubuk Barumun, Provinsi Sumatera Utara. Pada penelitian kali ini UPT yang memiliki wilayah kerja lima provinsi (Provinsi Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat) tersebut juga melibatkan beberapa stakeholders yaitu Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh, Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Lawas, tokoh adat, dan masyarakat setempat. Pelibatan masyarakat sekitar dalam kegiatan dirasakan cukup penting, selain sebagai media pendidikan dan sosialisasi tentang kesadaran pelestarian cagar budaya, juga diharapkan agar tidak terjadi kecurigaan terhadap upaya perburuan harta karun pada aset mereka. Hal tersebut mengingat pada sekitar tahun 2000-an, telah terjadi penggalian liar dalam rangka perburuan harta karun pada dua lokasi berbeda yang menyebabkan rusaknya bangunan induk pada dinding sebelah selatan dan sebuah bangunan serupa yang berada di luar pagar biara.


Gambar 1. Biara Sangkilon dari arah timurlaut

Selain dilakukan dengan cara ekskavasi, penelitian yang bertopik arkeologi lansekap tersebut juga disertai dengan survei, pemetaan terestrial dan foto udara menggunakan drone (pesawat tanpa awak) serta wawancara terhadap beberapa tokoh masyarakat terkait dengan pemanfaatan lahan di sekitar biara. Pada penelitian kali ini lebih dari 9 kotak ekskavasi dengan ukuran bervariasi 2 x 2 m, 4 x 4 m, sampai 4 x 6 m telah dibuka, tersebar di dua lokasi berbeda yang dikodekan dengan sektor II dan IV, dan V. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui relasi antarkompleks bangunan utama dengan bangunan-bangunan di sekitarnya, juga terhadap lingkungan alam, dan perubahan lahan hasil aktivitas pemanfaatan manusia. Senyampang dengan kegiatan tersebut, Balai Arkeologi Sumatera Utara, pada penelitian tahun 2018 ini juga dilakukan diskusi dan sinkronisasi misi, visi terhadap tinggalan budaya yang terdapat di kawasan Padang Lawas. Kegiatan tersebut melibatkan Bupati, ketua adat, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Lawas.


Gambar 2. Diskusi dan Sinkronisasi visi, misi pelestarian tinggalan arkeologis dengan Bupati, tokoh adat, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Lawas


Gambar 3. Keterlibatan masyarakat setempat dalam kegiatan ekskavasi

Menuju ke lokasi Biara Sangkilon memang tidak mudah, tetapi cukup menyenangkan bagi yang menyukai tantangan. Dari jalan utama Sibuhuan—Gunung Tua, memang belum terdapat papan nama yang menunjuk ke arah situs tersebut. Walaupun begitu kita bisa memulai pencarian ke Desa Sangkilon di Kecamatan Lubuk Barumun. Dari lokasi tersebut dapat ditanyakan kembali kepada masyarakat setempat arah menuju biara. Oleh karena jalan menuju ke biara tidak dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat, kita harus melintasi jalan setapak membelah kebun kelapa sawit. Kadang jalan setapak tersebut menjadi becek karena hujan. Dari jalan utama Sibuhuan—Gunung Tua sampai ke Biara Sangkilon kira-kira sejauh 1 km masuk ke arah kebun kelapa sawit melalui jalur darat. Jalur kedua dapat ditempuh dengan cara menyeberangi Sungai Sangkilon. Apabila sungai dalam kondisi surut, kedalamannya hanya sekitar 30-50 cm, tetapi apabila dalam kondisi banjir dapat mencapai 100-200 cm. Lebar Sungai Sangkilon yang harus diseberangi kira-kira 10 meter. Secara umum, jarak dari Biara Sangkilon—Kota Sibuhuan sejauh 9 km ke arah utara.


Gambar 4. Route ke arah Biara Sisangkilon dari Kota Sibuhuan

Satu hal menarik yang kemudian menjadi latah diikuti oleh para peneliti pada masa sekarang adalah tentang penyebutan bangunan tersebut. Terkait dengan penyebutan bangunan tersebut, beberapa peneliti Eropa pada sekitar tahun 1930-an menyebut gugusan bangunan tersebut dengan nama Biaro Sisangkilon. Penyebutan ini kemudian diikuti oleh para peneliti di masa kemudian. Selain itu ada juga beberapa peneliti yang menyebutnya dengan nama Candi Sisangkilon. Nama inilah yang sering digunakan oleh para peneliti pada masa sekarang untuk menyebut kompleks bangunan tersebut. Sangat disayangkan, penamaan ini rasanya kurang tepat. Kata biaro ataupun candi yang merujuk pada bagunan suci tinggalan masa Hindu-Buddha, tidak dikenal oleh masyarakat sekitar. Mereka lebih mengenalnya dengan sebutan biara. Sementara kata Sisangkilon yang merujuk pada nama orang juga tidak dikenal oleh masyarakat setempat, mereka lebih mengenal nama Sangkilon saja. Oleh karena itu, cukup tepat apabila meyebut gugusan bangunan bata tersebut dengan nama Biara Sangkilon.

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa Biara Sangkilon telah menjadi bagian dari sejarah panjang masyarakat Padang lawas pada khususnya, dan Sumatera Utara pada umumnya. Dalam konteks ini, Biara Sangkilon sekaligus membawa identitas budaya nenek moyang masyarakat Padang Lawas. Keberadaan biara ini dirasa cukup penting untuk dilestarikan untuk kemudian dimanfaatkan. Dengan demikian keberadaan biara ini tidak lain merupakan aset sekaligus sumber daya yang harus diolah agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Apabila biara ini rusak atau bahkan hilang, maka identitas budaya masyarakat Padang Lawas juga akan ikut hilang. Saksi tentang kejayaan masyarakat Padang Lawas akan musnah, dan sebuah sumberdaya budaya yang tak ternilai harganya akan punah. Itulah harta karun terpendam masyarakat Padang Lawas sebenarnya! Kalau bukan kita yang menjaga kelestariannya, siapa lagi?
(dok.ft:ar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *