Temuan Benda Gayo Prasejarah Ubah Pandangan Jalur Penyebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Hits: 17

Repost

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Temuan arkeologi dari zaman Gayo Prasejarah di Ceruk Mendale, Ujung Karang, Loyang Pukes di Aceh Tengah telah mengubah pandangan sejumlah ahli tentang pola jalur penyebaran nenek moyang bangsa Indonesia. Temuan benda-benda budaya Austronesia di Gayo sama tuanya dengan Taiwan dan Filipina.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara yang memimpin tim penelitian arkeologi di Aceh Tengah, Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si dalam “BincangKopi #3 Musara Gayo” secara virtual, Sabtu (13/3/2021) malam melalui platform Zoom Meeting. Perbincangan dipandu wartawan Serambi Indonesia yang juga penyair, Fikar W.Eda.

Ketut mengatakan, sebelum penelitian Ceruk Mendale, para ahli meyakini nenek moyang bangsa Indonesia berasal Cina bagian selatan, lalu menyebar ke Taiwan, terus ke selatan, sampai di Filipina,  ke Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan Sumatera. Teori ini dikenal dengan “Out of Taiwan” dipopulerkan oleh arkeolog  Peter Stafford Bellwood.

Teori “Out of Taiwan”  menyatakan penutur bahasa Austronesia tiba terlebih dahulu di Filipina sekitar tahun 4500 hingga 3000 SM.

Kemudian sekitar tahun 3500 hingga 2000 SM, manusia yang mendiami Filipina melakukan migrasi ke Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara. Mereka terus menyebar ke Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara, Papua bagian Barat, Oseania, hingga Melanesia di Pasifik.

“Peneliti-peneliti kita juga ikut teori ini, bahwa nenek moyang kita berasal dari jalur Taiwan,” ujar Ketut.

Ketut menyebutkan, hasil analisa  karbon dari benda-benda prasejarah di Sulawesi rata-rata 3500. Tapi yang di Gayo, ada berusia  4400, 4900, 5040.

“Ini menunjukkan bahwa budaya Austronesia di Gayo  sudah lebih tua dengan Sulawesi dan  sama tuanya dengan yang di Filipina dan taiwan.

“Jangan-jangan Sumatera salah satu tempat cikal bakal orang orang berbudaya Austronesia di asia negara,” lanjut Ketut Wiradnyana.

 “Logikanya tidak mungkin berasal dari Sulawesi atau Kalimantan. Karena temuan di Gayo lebih tua dari temuan di Sulawesi. Ini artinya ada jalur lain sehingga sampai ke Gayo,” lanjut Ketut.

Ia menyebut salah satu hasil temuan berupa tembikar berwarna hitam. Tembikar ini ditemukan pada 4000-an lebih,  selevel dengan tembikar yang ditemukan di Taiwan.

“Makanya mustahil menggunakan jalur Taiwan. Berarti ada jalur lain menuju Gayo. Saya menduga dari Taiwan langsung ke Gayo,” lanjut Ketut Wiradnyana.

Temuan lainnya berupa kapak lonjong. Menurut Ketut, dulu teorinya, kapak lonjong hanya ada di bagian Timur Indonesia, karena adanya arus migrasi dari Cina bagian selatan.

“Tapi penelitian Ceruk Mendale menyatakan itu tidak benar. Sebab kapak lonjong juga ditemukan di Loyang Pukes. Berarti yang dari Cina ada yang menyebar ke barat. Ini asumsi memperkaya migrasi yang ada pada bangsa Indonesia. Asumsi ini dikenal dengan migrasi jalur barat,” ujar Ketut.

Ketut kemudian  mengutip Teori Oppen Himer  menunjukkan bahwa  cikal bakal bangsa Austronesia di Asia Tenggara berasal dari segitiga Taiwan di puncak, dan Sumatera serta NTT di bagian bawah. Teori Ini memang belum populer karena penelitian masih terbatas.

“Tapi indikasinya,  temuan tembikar hitam di Ceruk Mendale lebih tua dari di Taiwan. Apakah teori ini mendukung teori sebar segia Oppen Himer mengenai manusia Austronesia, menurut saya iya,” tukas Ketut.

“BincangKopi Musara Gayo” digagas Divisi Pendidikan dan Kebudayaan Musara Gayo, hadir sejarawan nasional dan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Prof M Dien Madjid, akademisi dan penulis buku Dr Yusra Habib Abdul Gani yang bermukim di Denmark, profesional dan pengacara Alwien Desry,SH.,MH, Ketua Ikatan Mahasiswa Pascasarjana Aceh (IMPAS), Yunidar ZA, akademisi Nasrullah RCl, seniman Rasyidin Wig dan lain-lain.

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Taufik Hidayat


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *