Siswa Wellington Intelligence School Belajar Ilmu Arkeologi Di Balar Sumut

Hits: 312

Dalam rangka Educational Field Trip untuk belajar mengenal arkeologi, siswa Wellington Intelligence School yang beralamat di Perum Cemara Asri, Jln. Cemara Boulevard C7 No. 174-182, Deli Serdang – Sumatera Utara sebanyak tiga puluh empat orang siswa, yang didampingi oleh dua orang guru pengajar dan satu orang guru wakil kepala sekolah berkunjung ke Balai Arkeologi Sumatera Utara (Balar Sumut) pada Senin, 17 Februari 2020. Kunjungan ke Balar Sumut diterima langsung oleh Dra. Hj. Nurlela, M.AP, selaku Kasubbag TU Balar Sumut.

Dalam kunjungannya ke Balar Sumut, para siswa  diarahkan memasuki ruang pertemuan utama untuk mengikuti program tambahan belajar yang diagendakan di Balar Sumut. Adapun materi yang akan disampaikan disini ialah ilmu arkeologi. Sebelum penyampaian materi berlangsung, Dra. Hj. Nurlela, M.AP selaku  Kasubbag TU Balar Sumut membuka kegiatan ini dan menyampaikan selamat datang di Balai Arkeologi Sumatera Utara para siswa SMP dan guru dari sekolah Wellington yang beralamat di komplek Cemara Asri. Perkenalkan instansi kami disini mempunyai tugas salah satunya melaksanakan penelitian di lima wilayah kerja yang meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau. Mengenai tujuan kunjungan para siswa kemari untuk mengikuti program tambahan belajar diluar kelas nanti akan disampaikan oleh peneliti kami,  setelah penyampian materi  dilanjutkan sesi tanya jawab, kami harapkan disesi ini dapat dimanfaatkan para siswa untuk bertanya mengenai materi yang disampaikan. Kemudian kegiatan dilanjutkan peninjauan langsung ke ruang pameran kami yang berada di lantai dua. Mungkin hanya itu pengantar dari kami mewakili Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara yang berhalangan hadir pada kesempatan ini, kami ucapkan terima kasih atas kunjungannya, mohon maaf atas segala kekurangan, selamat mengikuti field trip arkeologi di Balai Arkeologi Sumatera Utara.

Kemudian kegiatan dilanjutkan penyampaian materi oleh Dyah Hidayati, SS., selaku peneliti muda Balar Sumut. Beliau menyampaikan Balai Arkeologi Sumatera Utara merupakan unit pelaksana teknis Kemendikbud yang mempunyai tugas melaksanakan penelitian di lima provinsi, antara lain Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau. Mengenai tugas dari Balai Arkeologi kurang lebihnya ada tiga diantaranya, melaksanakan penelitian arkeologi, merawat benda bernilai budaya dan melakukan publikasi hasil penelitian arkeologi.  Nah apa saja kira-kira yang diteliti atau yang menjadi tugas Balai Arkeologi yaitu meneliti peninggalan arkeologi dari masa prasejarah, masa ini merupakan pembabakan, pembabakan dari awal kebudayaan atau perkembangan kebudayaan manusia yaitu dimulai dari masa yang paling sederhana, peninggalan arkeologi dari masa prasejarah, kemudian kita berkembang dari peninggalan arkeologi masa prasejarah ke peninggalan arkeologi masa klasik atau biasanya kita sebut sebagai masa peninggalan Hindu-Buddha, selanjutnya peninggalan yang lebih muda lagi yaitu peninggalan arkeologi dari masa Islam, dan yang lebih muda lagi yang menjadi kajian kita adalah  peninggalan arkeologi dari masa kolonial.

Memasuki masa prasejarah, dalam penjelasannya masa prasejarah adalah masa dimana manusia belum mengenal tulisan, jadi kita tidak akan mengetahui informasi kalau tidak mendapatkan data dari data-data tertulis untuk mengetahui bagaimana kehidupan manusia pada masa itu. Kehidupan manusia masih sangat sederhana karena ini awal dari peradaban. Cara bertahan hidup manusia prasejarah adalah berburu dan mengumpulkan makanan serta berpindah–pindah tempat, tidak mempunyai tempat tinggal yang menetap seperti kehidupan manusia dijaman sekarang, mereka berpindah-pindah karena menyesuaikan dengan persediaan makanan yang disediakan oleh alam disekitarnya. Bahan makanan yang disediakan oleh alam itu berupa hewan liar dan tumbuh-tumbuhan, maka di dalam masa prasejarah masa ini biasanya disebut masa berburu dan meramu. Istilah berburu adalah berburu binatang liar untuk dikonsumsi sehari-hari, sedangkan meramu adalah memanfaatkan tumbuh-tumbuhan disekitarnya sebagai bahan makanan dan juga dimanfaatkan sebagai obat-obatan. Disebut manusia prasejarah karena pada saat itu belum mengenal tulisan, namun mereka menggunakan coretan, lukisan, atau cap yang terdapat di dinding gua atau tebing yang dibuat oleh mereka sebagai medium untuk menyampaikan pesan atau catatan-catatan peristiwa. Bisa jadi bentuk visual yang terdapat di dinding-dinding gua merupakan alat komunikasi antar manusia pada zaman itu.

Lanjut penjelasan masa klasik atau biasanya disebut masa Hindu-Buddha, betapa besarnya pengaruh pada masa itu di nusantara ini melalui jejak peninggalannya yang masih terawat sampai sekarang seperti peninggalan Candi yang berada di Pulau Jawa diantaranya Candi Borobudur, Candi Prambanan dan bangunan Candi yang berada di wilayah Sumatera yaitu komplek Candi Bahal yang berada di Padang Lawas. Menurut sebuah sumber Nusantara ini mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India dan Tiongkok. Kemudian memasuki tinggalan arkeologi masa islam dan kolonial, pada kesempatan ini pemateri menampilkan tayangan slide memperlihatkan foto bangunan diantaranya masjid tua, nisan di Barus, dan nisan di Aceh yang merupakan tinggalan jejak peradaban islam pada masa itu, kemudian benteng peninggalan Jepang dan bangunan/gedung yang berada di kawasan Kesawan Kota Medan, yang sampai saat ini masih dimanfaatkan sebagai kantor publik, museum dan lain sebagainya.

Setelah belajar mengenal arkeologi, selanjutnya siswa diajak untuk meninjau langsung ke lokasi display hasil penelitian arkeologi berupa casting rangka manusia prasejarah yang ditemukan di Loyang Ujung Karang dan Loyang Mendale yang berusia sekitar 3000-7000 Tahun yang lalu, uang kepeng, botol jaman kolonial, mangkok yang berasal dari kapal karam (temuan arkeologi bawah air), kaca, perahu, alat batu, besi, perunggu, fragmen keramik, fragmen tembikar yang berada di lantai dua lobi atas Balar Sumut.

Setelah meninjau lokasi display pameran hasil penelitian arkeologi, kemudian para siswa berkumpul di lobi bawah untuk membuat grup yang terbagi menjadi tujuh grup, masing-masing grup berjumlah 4-5 orang siswa untuk belajar merekonstruksi gerabah. Dari kegiatan ini pelajaran yang dapat diambil adalah bagaimana cara memilah pecahan gerabah yang sudah tidak utuh lagi dan menyatukannya kembali dengan menggunakan lem yang sudah disediakan. Bagian ini merupakan salah satu proses penanganan temuan dalam kegitan ekskavasi maupun survey arkeologi.

Dengan adanya kegiatan Educational Field Trip di Balai Arkeologi Sumatera Utara, diharapkan dapat menambah informasi terkait kehidupan dimasa lampau, manfaat edukatif dan pembelajaran, sarana rekreasi yang menyenangkan dan memperluas wawasan dan pikiran bagi siswa Wellington Intelligence School, juga merupakan bagian dari upaya Balar Sumut dalam mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang apa dan bagaimana warisan budaya artefaktual yang ada, serta pemahaman tentang arti pentingnya upaya pelestarian.

Berikut ketika Educational Field Trip dari  Wellington Intelligence School berlangsung di Balai Arkeologi Sumatera Utara pada hari Senin, 17 Februari 2020.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *