Seminar Pengenalan Arkeologi Pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional

Hits: 155

Balai Arkeologi Sumatera Utara menyelenggarakan seminar pendidikan bertema “Pengenalan Arkeologi” pada peringatan Hari Pendidikan Nasional yang berlangsung  pada 01 Mei 2019 di PPPPTK BBL Medan.

Hadir dalam seminar ini kepala PPPPTK BBL Medan Drs. Rasoki Lubis, M.Pd, Kepala Bidang Fasningkom PPPPTK BBL Medan Nelson Manurung, ST, M.Pd. seminar ini menghadirkan dua narasumber, yang pertama Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si selaku Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara, beliau merupakan peneliti utama golongan IV E dengan fokus kajian arkeologi prasejarah. Yang kedua Drs. Yance M.Si, beliau merupakan Akademisi di Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Adapun peserta yang mengikuti seminar sebanyak 128 peserta yang berasal dari jurusan Antropologi dan Sejarah Universitas Sumatera Utara.

Mengacu pada tema seminar “Pengenalan Arkeologi” arkeologi berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti kuno dan logos yang berarti ilmu. Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan intepretasi data berupa artefak (budaya bendawi seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi dan fosil). Istilah arkeologi sendiri sudah tidak asing bagi mahasiswa yang hadir dalam seminar ini karena sudah mereka pelajari di jurusan Antropologi dan Sejarah selama mengikuti perkuliahan arkeologi.  

Pada kesempatan ini Pak Ketut mengawali pemaparan  makalahnya terkait  Keberagaman Pra Etnisitas, beliau menyampaikan, teori umum manusia bermigrasi dari Afrika ke seluruh dunia. Fakta yang membuktikan hal tersebut adalah ditemukannya tengkorak Pithecanthropus erectus yang diperkirakan berusia 1,2 juta tahun yang lalu. Manusia modern tertua yaitu Homo luzonensis ditemukan di Philipina dan diperkirakan berasal dari  67.000 BP. Rangka manusia modern tertua yang pernah di temukan di Indonesia yaitu Homo floresiensis atau yang kerap disebut hobbit. Rock adalah tinggalan arkeologi manusia neolitik yang berasal dari 3000 tahun yang lalu. Namun penelitian terbaru mengatakan bahwa Rock Art berasal dari 39.000 tahun yang lalu, artinya Migrasi I : rangka Australomelanesid berasal dari 12.000 tahun lalu ditemukan di Nias, DNA yang mengindikasikan bahwa keberagaman Gelombang.  Migrasi I ras mongoloid datang dari Cina selatan ke Philipina kemudian tiba di Indonesia. Namun rangka yang ditemukan di Takengon, Aceh mengindikasikan bahwa migrasi tersebut punya jalur lain. Gelombang migrasi II ras mongoloid : pencabutan dan pembentukan gigi. Kajian DNA membuktikan bahwa rangka ini memiliki kesamaan dengan masyarakat Gayo. Gelombang migrasi III mongoloid : tembikar dihias dengan teknik yang lebih rumit dikaitkan dengan budaya Dongson. Gelombang migrasi IV mongoloid : tes DNA mengindikasikan adanya percampuran DNA mongoloid dan india.

Dalam kesempatan yang sama Pak Yance memaparkan makalahnya dengan judul Peran Arkeologi Dalam Mengenali Nilai-Nilai Kemanusiaan dan Kebangsaan. Beliau menyampaikan kenapa intoleransi sekarang sering dijumpai di media, baik itu televisi, media sosial dan lain sebagainya. Sebenarnya kalau kita mau belajar, banyak diperoleh data-data yang mengindikasikan adanya nilai-nilai toleransi di masa lalu. Nisan di Mojokerto, di Tralaya mengindikasikan adanya komunitas Islam di masa Majapahit. Lalu ada makam di Pandanangan yang pintu masuknya berbentuk gapura bentar. Taman prasasti di taman makam prasasti, adanya nisan Cina dan nisan Islam yang berdampingan menunjukkan sikap toleran. Masjid Agung Banten yang menggunakan atap bertingkat, sebelum abad 17 tidak ada masjid yang atapnya berbentuk kubah. Selain itu ada juga Menara berbentuk mercusuar. Orang-orang pada masa itu lebih fleksibel. Masjid Agung Demak atapnya juga tidak memiliki kubah. Masjid tertua Aceh juga berbentuk kubah. Kubah Masjid sendiri dibangun oleh Belanda, meniru bentuk bangunan di Persia. Dengan data arkeologi kita bisa menunjukkan bahwa nenek moyang kita pada masa lalu menunjukkan nilai-nilai toleransi, keindahan, kepedulian.

Dari pemaparan para narasumber dapat disimpulkan bahwa, arkeologi mampu mengisahkan perjalanan manusia mulai masa prasejarah, sampai dengan saat ini dengan berbagai tinggalan arkeologisnya. Bagaimana arkeologi berperan untuk kehidupan masyarakatnya pada masa sekarang dan arkeologi mampu memperlihatkan keberagaman etnisitas sehingga toleransi menjadi upaya/alat pemersatu bangsa. Harapan kami setelah mengikuti seminar ini, sudah seyogyanya kita yang berasal dari berbagai latar belakang etnis dan kepercayaan yang beragam, semakin hidup rukun berdampingan, saling menghargai dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *