Seminar Hasil Penelitian Arkeologi, Takengon 2021

Hits: 57

Duduk di mimbar utama dari kanan Kadisbud Aceh Tengah, Bupati Aceh Tengah, Kabalar Sumut, Kadisparpora Aceh Tengah dalam kegiatan Seminar Penelitian Arkeologi di Takengon (21/5/2021)

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan  penelitian arkeologi di Aceh Tengah yang telah berlangsung beberapa pekan yang lalu, Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan kegiatan Seminar Hasil Penelitian Arkeologi dengan mengusung tema “Austronesia di Indonesia Bagian Barat; Kajian Budaya Austronesia Prasejarah di Wilayah Budaya Gayo”. Kegiatan   ini berlangsung di Parkside Hotel, Takengon, Aceh Tengah pada Jum’at 21 Mei 2021.

Seminar Hasil Penelitian Arkeologi dihadiri oleh lima puluh tujuh (57) peserta yang terdiri dari Bupati Aceh Tengah dan jajarannya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tengah dan jajarannya, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Aceh Tengah dan jajarannya, Guru sejarah SMA/SMK di wilayah Aceh Tengah, Pemerhati Budaya, dan Masyarakat.

peserta seminar lakukan registrasi sebelum memasuki ruangan pada kegiatan Seminar Pengenalan Arkeologi di Takengon (21/5/2021)
peserta berdiri ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan diikuti oleh seluruh peserta pada kegiatan Seminar Pengenalan Arkeologi di Takengon (21/5/2021)

Perlu diketahui bahwa dalam pelaksanaan kegiatan seminar hasil penelitian arkeologi ini tetap dengan mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer agar semua yang terlibat dalam kegiatan ini terhindar dari pandemik/wabah yang sedang melanda.

Kabalar Sumut Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si berikan sambutan pada kegiatan Seminar Penelitian Arkeologi di Takengon pada (21/5/2021)

Dr. Ketut Wiradnyana, Msi selaku Kepala Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Utara mengawali kegiatan dalam sambutannya menyampaikan pelaksanaan kegiatan seminar hasil penelitian ini merupakan tanggung jawab kami sebagai instansi penelitian, selama 10 tahun lebih melaksanakan penelitian di Loyang Mendale dan sekitarnya, mengenai apa yang ditemukan dari penelitian arkeologi tersebut sudah sepantasnya  disampaikan pada masyarakat sekitar dan steakholder terkait di wilayah Aceh Tengah dan sekitarnya.

Selain itu ada tanggung jawab untuk memperbaiki buku yang sudah  diterbitan  dengan judul “Gayo merangkai identitas”, ada beberapa informasi yang perlu dimajukan dan informasi yang perlu dimundurkan, maka dari itu mudah-mudahan pembaruan informasi dapat diselesaikan sesegera mungkin terkait informasi yang berada pada buku tersebut.

Bupati Aceh Tengah Drs. Shabela Abubakar sampaikan bimbingan dan arahan sekaligus pembukaan pada kegiatan Seminar Penelitian Arkeologi di Takengon (21/5/2021)

Sementara itu Drs. Shabela Abubakar selaku Bupati Aceh Tengah memberikan bimbingan dan arahan sekaligus membuka acara seminar, pada kesempatan ini menyampaikan  hasil penelitian arkeologi yang ditemukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara  dinilai sangat penting sebagai upaya untuk mengungkap keberadaan nenek moyang suku bangsa Gayo. Kita ketahui bersama bahwasanya hasil penelitian yang dilakukan tim Balar Sumut berupa kerangka dan artefak lainnya manusia prasejarah berusia sekitar 3000-7000 tahun yang lalu ada kaitannya dengan nenek moyang suku bangsa Gayo yang artinya nenek moyang suku bangsa Gayo sudah eksis sejak ribuan tahun yang lalu. Penemuan ini harus terus kita gaungkan agar masyarakat menyadari begitu besar peradaban dan kebudayaan nenek moyang sejak jaman dulu, oleh karena itu kita harus terus mengupayakan menyebarluaskan informasi ini kepada generasi yang akan datang.  

Daerah sangat mendukung upaya penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Balar Sumut untuk terus menggali informasi agar semunya menjadi terang dan jelas. Dalam beberapa kesempatan daerah juga sudah berdiskusi dengan Balar terkait langkah-langkah dan upaya apa yang harus dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mengenai hasil penelitian yang telah ditemukan. Oleh karena itu pada kesempatan ini ditekankan, Balar Sumut jangan pernah ragu untuk bekerja dan terus melakukan penelitian, karena kami berkomitmen untuk melakukan upaya perlindungan dan pengembangan hasil penelitian yang telah ditemukan. Lokasi penelitian arkeologi akan terus  dibenahi dan menjadikan salah satu objek wisata edukasi prasejarah sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kesempatan diskusi seperti ini dirasa sangat baik dan berharap akan ada diskusi hasil penelitian arkeologi yang berkelanjutan. Pertemuan ini menjadi fenomena, pemikiran antar beberapa golongan yang harus disampaikan para guru dan tokoh masyarakat yang hadir pada forum ini. Dari itu kami sangat mendukung agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi yang beredar di tengah-tengah masyarakat.

Narasumber dari Kadisbud Aceh Tengah Drs. Uswatuddin, M.AP, Kabalar Sumut Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si, Moderator Erfan Julianto, SE, MAP, Kadisparpora Aceh Tengah Drs. Muhammad Syukri, M.Pd pada kegiatan Seminar Penelitian Arkeologi di Takengon (21/5/2021)

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan oleh narasumber, dalam kesempatan ini narasumber yang dihadirkan sebanyak tiga (3) orang, masing-masing mewakili Balai Arkeologi Sumatera Utara Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si. Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kab. Aceh Tengah Drs. Muhammad Syukri, M.Pd. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Aceh Tengah Drs. Uswatuddin, M.AP. dengan moderator Ervan Julianto, SE, M.AP.

Pemaparan materi diawali oleh narasumber yang mewakili Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kab. Aceh Tengah, berjudul “Untuk Apa Hasil Penelitian Arkeologi Di Loyang Ujung Karang dan Loyang Mendale”. Dalam paparannya narasumber menyatakan bahwa ada pertanyaan yang menarik dari Prof Dr Bungaran A Simanjuntak dalam pengantar buku “Gayo Merangkai Identitas”, disitu dikatakan satu hal yang perlu dicermati dari hasil penelitian ini ialah teori yang dikembangkan oleh pegawai/ambtenaren Belanda yang telah disebarkan dan telah direkam dalam benak dan dipercaya oleh orang Batak dan ilmuan suku bangsa ini bahwa orang Gayo berasal dari tanah Batak. Gayo dan Alas adalah sub suku dari suku bangsa Batak. Namun dengan temuan penulis buku ini, apalagi masih akan diteliti secara mendalam lagi, maka teori itu bisa dijungkir balik oleh beliau. Justru suku bangsa Batak berasal dari suku bangsa Gayo. Atau justru suku bangsa Gayo bukan sub-sukunya orang Batak. Barangkali sederajat atau merupakan dua saudara yang seayah dan seibu. Atau Gayo lebih dulu datang di pedalaman/pegunungan tengah Aceh. Baru menyusul orang Batak? Diharapkan peneliti dapat mengungkap lebih mendalam dan terang benderang. Ini sangat penting untuk diungkap secepatnya.

Hasil penelitian dari Balar menjadi sebuah data yang sangat penting, karena informasi yang beredar ditengah masyarakat berupa foklor atau cerita yang menyatakan dulu disana seperti ini, ada ini, ada keajaiban seperti ini namun tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Jadi kalau berbicara di masyarakat ilmiah, kekeberen itu tidak bisa menjadi teori bahkan tidak bisa menjadi footnot sebuah buku yang kita tulis atau karya ilmiah yang dibuat.

Untuk menguji hasil temuan arkeologi yang ditemukan di Loyang Ujung Karang dan Mendale maka pada tahun 2014 dilakukan tes DNA oleh siswa-siswa dan beberapa orang masyarakat di Aceh Tangah dan hasilnya ada beberapa orang masyarakat yang hasil DNA nya sama dengan kerangka yang ditemukan berarti mereka keturunan dari manusia prasejarah yang ditemukan di situs tersebut.

Ada informasi yang menarik yang dijelaskan oleh Ibu Herawati bahwa DNA orang Gayo itu mirip dengan DNA orang Karo, itu bukti ilmiah yang bisa dijadikan dasar untuk menulis karya ilmiah, melanjutkan penelitian. DNA itu tidak bisa dibantah, jadi kalau ada hubungan DNA antara manusia prasejarah dan orang Karo artinya itu membuktikan cerita Sibayak hinggap itu terbukti. Untuk membuktikan cerita itu maka harus ditulis dan dipublikasikan.

Kemudian temuan terkait beliung, dalam buku sejarah menyatakan beliung hanya ditemukan di wilayah Indonesia bagian timur sampai hari ini, namun ternyata beliung itu juga ditemukan di wilayah Indonesia barat tepatnya di Loyang Mendale, Gayo, Aceh Tengah. Maka dari itu inilah salah satu tugas guru disini untuk memperbarui data sejarah,  mudah-mudahan ini menjadi bekal untuk teman-teman semua disini untuk mau menulis berdasarkan data yang ditemukan oleh tim dari Balar, jangan menunggu tim dari Balar yang menulis karena wilayah kerja Balar sendiri yang luas dan tidak hanya fokus di satu tempat saja dalam melaksanakan penelitian arkeologi.

peserta seminar menikmati hidangan coffee break pada kegiatan Seminar Pengenalan Arkeologi di Takengon (21/5/2021)

Dilanjutkan sesi pemaparan materi kedua oleh narasumber yang mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Aceh Tengah dengan judul Rencana Pengembangan Cagar Budaya Ceruk Mendale Dan Ceruk Ujung Karang Kabupaten Aceh Tengah”. Dalam paparannya dikatakan bahwa Situs Ceruk Mendale terletak di Kampung Mendale Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah. Areal Ceruk Mendale sekitar 900 M². Ceruk ini ditemukan tahun 2007 oleh Balai Arkeologi Medan.

Terdapat empat ceruk yang berjajar dari timur ke barat berada dilereng perbukitan dan tidak jauh dari tepian Danau Laut Tawar. Pada situs ini ditemukan kerangka manusia prasejarah berusia 7.400 Tahun, fragmen gerabah, artefak batu alat serpih, bakal beliung dan juga batu pukul.

Sesuai dengan anggaran yang tersedia maka pada tahun 2019 Pemerintah Kabupaten Aceh telah melakukan pemasangan pagar keliling pada ceruk atau sector-sector ekskavasi lokasi ceruk/loyang Mendale yang bertujuan untuk pengamanan terhadap castingan/replica kerangka manusia prasejarah.

Tahun Anggaran 2021, direncanakan akan dilakukan penataan lokasi Ceruk Mendale terdiri track/akses jalan, pegangan tangga,  halaman parkir, NPK/Toilet, plaza mini dan taman. Disamping perlu perluasan areal yang lebih memadai agar dapat ditempatkan sarana-sarana pendukung seperti rumah jaga, cafetaria dan lainnya sehingga dapat memberikan kenyaman bagi para pengunjung.

Kemudian dilanjutkan pembahasan terkait Situs Ceruk Ujung Karang yang terletak di Kampung Jongok Meluem Kecamatan Kebayakan. Ceruk ini ditemukan pada Tahun 2010 oleh Balai Arkeologi Medan. Pada situs ini ditemukan rangka manusia prasejarah, fragmen gerabah, artefak batu beliung persegi.

Saat ini, lokasi ceruk/loyang Ujung Karang telah dilakukan pemagaran/pagar beton disepanjang pinggiran menuju lokasi Ujung Karang bertujuan untuk mencegah terjadinya erosi/longsor terhadap akses jalan menuju lokasi Ceruk Ujung Karang.

Rencana pengembangan ceruk Ujung Karang di tahun 2021 sama dengan yang direncanakan di ceruk Mendale.

Adapun Rencana pengembangan jangka panjang Ceruk Mendale dan Ceruk Ujung Karang, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah akan menjadikan Ceruk Mendale dan Ceruk Ujung Karang sebagai kawasan wisata sejarah. Hal tersebut dapat terwujud jika seluruh unsur yang terkait baik pemerintah maupun masyarakat berperan aktif dan bersinergi sehingga  KAWASAN WISATA SEJARAH pada akhirnya dapat menjadi salah satu wisata unggulan di Kabupaten Aceh Tengah.

Selanjutnya Sesi pemaparan materi ketiga oleh narasumber yang mewakili Balai Arkeologi Sumatera Utara berjudul “Gayo Musara”. Dalam pemaparan ini dijelaskan secara singkat bahwasanya budaya-budaya awal berbeda dengan nenek moyang kita, penandanya ada migrasi awal ada kelompok orang yang membawa peralatan-peralatan dari pantai mereka migrasi ke pedalaman. Dipantai kita tahu bereksplorasi 12.000 tahun yang lalu, di pedalaman sekitar 8.000 tahun yang lalu. Ini data valid sebagai sebuah penelitian sudah luar biasa.

Dalam penelitian yang dilakukan di daerah Gayo ditemukan beliung,kapak persegi, yang sebelumnya ada teori yang menyatakan bahwa beliung hanya ditemukan di daerah Indonesia bagian timur, namun dengan penelitian ini, teori itu terbantahkan.

Kemudian dalam paparannya, narasumber menjelaskan hasil temuan arkeologi yang ditayangkan dalam slide-slide yang ditayangkan dan menyimpulkannya seperti:

Aktivitas di situs Loyang Mendale, sebelumnya diketahui dari sejak masa prasejarah Mesolitik, sebelum 8430 ± 80 BP hingga masa Neolitik awal sekitar 5080 ± 120 – 3115 ± 30. Hasil analisa dating terakhir pada lapisan atas Mesolitik menghasilkan pertanggalan 5470 ± 140 BP yang sejalan dengan aktivitas awal Neolitik. Sedangkan dari aspek kebudayaannya tampaknya berlangsung terus dari sejak masa Mesolitik, Neolitik hingga Paleometalik pada kisaran awal-awal Masehi. Adanya pembauran dan budaya berlanjut, dikuatkan dari berbaurnya tinggalan artefaktual dari periode tersebut.

Di situs Loyang Mendale paling tidak ada 20 individu yang ditemukan hingga kini, mereka berbaur antara ras Mongolid dengan Australomelenesid. Umumnya yang menghuni adalah kelompok wanita dan anak-anak, telah ada prosesi inisiasi selain penguburan. Keberadaan artefak menggambarkan telah berlangsung juga migrasi dari periode Mesolitik, Neolitik hingga Paleometalik.

Di situs Loyang Muslimin aktivitasnya diindikasikan pada periode pasca erupsi Gunung Salah Nama. Interpretasinya, ketika terjadi erupsi kelompok itu berpindah dari situs Loyang Mendale ke situs Loyang Muslimin. Interpretasi itu didasarkan atas temuan dua kerangka manusia dengan budaya konteksnya adalah berciri tembikar Sahuynh Kalanai yang sama dengan fragmen tembikar yang ditemukan di situs Loyang Muslimin.

Hasil analisis Granulometri dan petrografi atas lapisan abu vulkanik yang ada di situs Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang serta pengamatan atas kondisi geografis menunjukkan bahwa ada kesamaan ciri litologi, stratigrafi, struktur lapisan, posisi mulut gua dan kondisi topografi, diinterpretasikan endapan tufanya hasil letusan Bur Ni Telong. Endapan dimaksud tergolong jenis piroklastik dari jenis tufa yang diendapkan tiga kali. Hal ini menggambarkan bahwa telah terjadi tiga kali letusan.

Pemilihan lokasi hunian di situs Loyang Muslimin, sebenarnya tidak terlalu ideal sebagai lokasi hunian mengingat kondisi ruang yang gelap dan cenderung sempit dengan lorong yang cukup banyak. Namun keberadaan temuan arkeologis yang ada padanya cenderung semasa dengan periode perkembangan budaya Sahuynh Kalanai, sehingga asumsi sementara keberadaan budaya itu di situs Loyang Muslimin akibat adanya erupsi Bur Ni Telong.

Setelah pemaparan oleh ketiga narasumber, kegiatan ini dilanjutkan dengan membuka sesi diskusi atau tanya jawab dengan tujuan untuk memberikan ruang bagi peserta yang notabene berasal dari Guru sejarah, pemerhati budaya, steakholder terkait dan masyarakat untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahui sekaligus memberikan tanggapan ataupun tambahan-tambahan informasi terkait keberadaan situs Loyang Ujung Karang dan Mendale sebagai tinggalan budaya nenek moyang yang harus dilestarikan keberadaannya.

peserta seminar sampaikan pendapatnya dalam sesi diskusi pada kegiatan Seminar Pengenalan Arkeologi di Takengon (21/5/2021)
peserta seminar sampaikan pendapatnya dalam sesi diskusi pada kegiatan Seminar Pengenalan Arkeologi di Takengon (21/5/2021)

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan seminar hasil penelitian arkeologi ini adalah; sebagai salah satu Cagar Budaya yang telah mendukung Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah harus mulai berbenah dengan menyusun masalah Plan pembangunan Ceruk Mendale dan Ceruk Ujung Karang sebagai tempat pelestarian dan perlindungan budaya yang akan menjadi wisata budaya bagi generasi kedepannya.

Kemudian keberadaan Ceruk Mendale dan Ceruk Ujung Karang sebagai akar peradaban masyarakat Gayo yang telah dibuktikan secara ilmiah perlu di tangani keseriusan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dalam pengembangan, perlindungan dan pemanfaatannya, sehingga tidak hanya sebagai cikal bakal  peradaban suku Gayo tetapi juga dapat menjadi tujuan wisata bagi pengunjung dan menjadikan Kabupaten Aceh Tengah sebagai daerah yang memiliki Cagar Budaya Pra sejarah yang di kenal secara Lokal, Nasional maupun Internasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *