Selamatkan Temuan Arkeologi Gayo Prasejarah, Kawasan Danau Laut Tawar Diusul Jadi Tanah Adat Gayo

Hits: 17

Repost

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Kawasan seputaran Danau Laut Tawar Aceh Tengah yang menjadi area penggalian arkeologi Gayo Prasejarah, diusulkan agar dibebaskan dan dijadikan tanah adat Gayo.

Usulan ini disampaikan Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara yang memimpin tim penggalian arkeologi Gayo Dr Ketut Wiradnyana MSi.

“Kita usulkan agar areal atau lokasi penggalian arekologi yang sudah kami lakukan agar dibebaskan dan dijadikan tanah adat Gayo. Kalau perlu seluruh kawasan Danau Laut Tawar dibebaskan jadi tanah adat Gayo,” ujar Ketut Wiradnyana.

Ia khawatir, apabila tidak sejak dini dilakukan pembebasan, ke depan akan lebih sulit lagi,mengingat begitu banyaknya aktivitas dan kepemilikan lahan di seputaran Danau Laut Tawar.

“Kalau sudah dibebaskan jadi tanah adat maka kawasan itu bisa diselamatkan, sebab didalamnya tersimpan mutiara kehidupan Gayo Prasejarah,” kata Ketut.

Balai Arkeologi Sumatera Utara melakukan penggalian arekologi di sejumlah loyang atau gua di bibir Danau Laut Tawar.

Penelitian dilakukan sejak 10 tahun silam. Loyang atau gua yang digali antara lain Loyang Mendalr, Loyang Ujung Karang, Loyang Pukes di Kecamatan Kebayakan.

Kemudian di Loyang Muslimin, Loyang Koro, Loyang Kaming di Kecamatan Lut Tawar.

Menurut Ketut Wiradnyana, hampir seluruh kawasan Danau Laut Tawar menyimpan rekam kehidupan Gayo Prasejarah.

“Saya yakin masih banyak yang harus digali dan diteliti lagi. Meski kami dari Balai Arkeooogi Sumut sudah menganggap cukup. Kelak barangkali penggalian bisa dilanjutkan dengan teknologi lebih canggih,” ujar Ketut.

Penelitian dan penggalian yang dilakukan Ketut dan kawan-kawan berhasil mengungkap kehidupan Gayo Prasejarah sejak 8400 Tahun Sebelum Masehi.

Hasioenghalian berupa kerangka manusia, kapak lonjong, potongan gerabah, potongan anak panah dan sejumlah artefak lain yang berasal dari era prasejarah sampai awal Masehi.

Analisa DNA yang dilakukan menghasilkan kesesuain dengan masyarakat Gayo yang hidup sekarang ini di kawasan itu.(*)


Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *