Sarkofagus Samosir

Hits: 3262

 

Danau Toba yang terletak di deretan Pegunungan Bukit Barisan merupakan salah satu daya tarik utama pariwisata di Sumatera Utara. Erupsi besar (supervolcano) pertama Gunung Toba Purba terjadi pada 75.000 tahun  yang lalu  yang membuat perubahan besar pada banyak aspek di dunia, karena abu vulkaniknya cukup lama berada di atmosfer dan membuat bumi tidak terkena sinar matahari. Kondisi tersebut mengundang keinginan wisatawan untuk melihat tinggalan sejarah dunia tersebut. Lekukan-lekukan dan lembah-lembah tersebut terbentuk karena adanya proses erupsi besar kedua dari Gunung Toba pada 30.000 tahun yang lalu yang kemudian membentuk kaldera yang cukup luas hingga mencapai 100 km2, sedangkan Pulau Samosir terbentuk karena proses letusan minor yang mengakibatkan terangkatnya dasar crater Gunung Toba di bagian barat (Pangururan-Samosir) dan timur (Parapat—Porsea). Material vulkanis pada erupsi ini terlempar hingga mencapai radius 20.000-30.000 km2, mencapai Sri Lanka, Teluk Benggala, dan Kepulauan Andaman (Whitten dkk. 2000,  8—9). Lekukan-lekukan lereng dinding danau dengan lembah-lembah yang dalam dan terjal merupakan sisa-sisa kedahsyatan erupsi tersebut yang sekarang dapat dinikmati. Hal itulah yang kemudian menampilkan keindahan alam yang menakjubkan ditambah lagi dengan hamparan sawah di pinggiran danau, serta Pulau Samosir yang berada di tengahnya.

Lokasi yang sangat terkenal juga sebagai asalnya halak (orang) Batak ini kini dimiliki oleh enam kabupaten yaitu Simalungun, Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, dan Samosir. Lokasi ini dapat dijangkau dengan perjalanan darat dari Medan melalui dua jalur yaitu via Pematang Siantar atau via Berastagi dan Kabanjahe dengan waktu tempuh lima sampai tujuh jam.  Selain alamnya, danau ini memiliki banyak dayatarik lain yang mengundang orang untuk datang ke lokasi tersebut, seperti  wisata budaya tradisi dan atraksinya yang masih berlangsung, wisata sejarah dan , dan juga penelitian arkeologi dengan berbagai tinggalan budaya materinya dari masa lampau. Dalam rangkaian sejarah, Danau Toba terkenal karena sosok Sisingamaraja XII yang melakukan perlawanan pada Belanda, serta adanya tempat pengasingan Soekarno di Parapat. Tinggalan-tinggalan budaya di sekitar Danau Toba dapat dikatakan cukup banyak dan sangat menarik. Tinggalan-tinggalan budaya cukup banyak dijumpai di seputar Danau Toba, seperti permukiman tradisional, sarkofagus, meja batu, lumpang batu, dan juga arca-arca megalitik, yang lebih dikenal dengan sebagai tradisi megalitik Samosir yang menunjukkan budaya dari masa prasejarah.

Sebagian besar sarkofagus yang ditemukan di Samosir merupakan wadah kubur komunal yang di dalamnya terdapat tengkorak dari banyak individu yang berasal dari satu marga. Secara umum, Sarkofagus Samosir mempunyai bentuk empat persegi panjang dan pada bagian atasnya melebar, berbentuk menyerupai perahu sebagai perlambang wahana si mati menuju alam arwah. Bagian wadahnya mempunyai lubang sebagai tempat menyimpan tulang dan sering dihias dengan pahatan kepala manusia yang digambarkan lebih menyeramkan seperti monster (makhluk mistis) di bagian depan atas dengan kesan menonjol dan menakutkan sebagai tokoh penolak bala dari pengaruh buruk dan jahat yang datang serta ditujukan agar arwah tidak mengalami gangguan dalam perjalanannya menuju dunia arwah. Pahatan figur lainnya berada di bagian depan wadah dan di bagian belakang tutup sarkofagus. Figur tersebut adalah penggambaran orang yang memiliki hubungan yang dekat dengan si mati. Pahatan figur yang ada di bagian depan dibuat pada posisi yang bervariasi, yaitu jongkok, duduk, atau berdiri, dengan penggambaran jenis kelamin yang jelas, laki-laki atau perempuan, namun tidak tidak diperlihatkan alat kelaminnya. Perbedaan gender tersebut ditunjukkan dengan ada tidaknya tonjolan pada bagian dada sebagai penggambaran payudara. Alat kelamin tidak diperlihatkan dengan cara memahatkan tangan pada posisi dilipat di depan perut atau penggambaran figur dalam posisi jongkok atau melipat kaki di depan perut. Pada bagian belakang tutup sarkofagus sering dipahatkan figur tokoh atau hiasan tertentu. (Wiradnyana dan Koestoro 2005, 50—1). Pahatan kepala manusia di bagian depan, pahatan manusia lain di bawahnya, serta pahatan manusia di bagian belakang merupakan ciri khas sarkofagus yang membedakan dengan bentuk wadah kubur lainnya di Pulau Samosir.

Hiasan pada sarkofagus tersebut memiliki kemiripan dengan beberapa tinggalan wadah kubur batu yang ada di daerah Besuki, Sulawesi, Sumba, Sumbawa, dan Bali. Hiasan tersebut bertujuan untuk mencegah segala macam kekuatan jahat yang akan mengganggu perjalanan arwah ke alamnya. Muka dan mata manusia dipercaya mengandung kekuatan gaib yang paling banyak dan perlambang dari roh orang yang telah meninggal (Heekeren, 1958 dalam Mahaviranata 1985,     150—1).

Bangunan megalitik di Sumatera terbatas pada sarkofagus-sarkofagus, tempat abu jenasah dari batu, dan patung-patung. Objek-objek tersebut tidak menunjukkan keseluruhan budaya suku, tetapi budaya megalitik yang telah mengalami perkembangan lebih tinggi. Tidak ada bangunan batu di Nusantara yang dipresentasikan dengan gaya seni dan kecakapan arsitektur semacam itu seperti yang ditemukan di Samosir. Sebuah sarkofagus yang ditemukan di Pengambatan Parsingguran, di pinggir baratdaya Danau Toba, dipahatkan hiasan dengan kesan yang lebih lembut. Figur dipahatkan dengan kesan ketenangan, kegembiraan, dan dibuat dengan indah (Schreiner 2003, 170—1).

Sarkofagus Samosir yang sangat khas merupakan sebuah hasil dari masyarakat yang kreatif, dinamis, dan terbuka dari unsur asing. Keberadaannya erat hubungannya dengan proses penghunian daerah tersebut. Pendirian bangunan-bangunan megalitik dikaitkan dengan konsepsi kepercayaan terhadap arwah nenek moyangnya. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk jalinan hubungan antara yang hidup dan si mati sehingga didapatkan keseimbangan antara dunia nyata dan dunia arwah. Dengan itu, diharapkan didapatkan kesuburan tanah, kesejahteraan, serta kesehatan (Setiawan, 2009, 94—101).

Sarkofagus Samosir dibuat dengan memanfaatkan teknologi pahat batu yang cukup maju. Hal tersebut menunjukkan adanya pemanfaatan alat kerja yang terbuat dari bahan logam yang mulai dikenal sejak masa neolitik. Pahatan pada batu-batu besar dengan sudut-sudut yang tajam atau runcing, dan bentuk patung-patung yang sudah memiliki garis-garis kontur dinamis merupakan gambaran sangat terampilnya si pemahat. Untuk dapat menghasilkan benda-benda seperti itu tentunya dibutuhkan mata pahat bermata logam. (Suryanegara, dkk.  2007, 128 –151).

Sebaran temuan Sarkofagus di Samosir, Sumatera Utara

Daftar Pustaka:

Mahaviranata, Purusa. 1985. Sarkofagus Gunung Sangka Bulan Sumbawa, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi Ke III. Jakarta: Puslitarkenas: 149—157.

Schreiner, Lothar. 2003. Adat dan Injil, Perjumpaan Adat Dengan Iman Kristen di Tanah Batak, Cetakan ke tujuh. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia

Setiawan, Taufiqurrahman. 2009. Sarkofagus Samosir: Kreativitas Lokal Masyarakat Samosir, Sangkhakala Volume XII. No. 23, Maret 2009: 94—101.

Suryanegara, Erwan, Nuning Damayanti dan Wiyoso Yudoseputro. 2007. Artifak Purba Pasemah: Analisis Ungkap Rupa Patung Megalitik di Pasemah dalam ITB J. Vis. Art. Vol. 1 D, No. 1: 128-151

Wiradnyana, Ketut dan Lucas Partanda Koestoro. 2005. Situs dan Objek Arkeologi di Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara. Berita Penelitian Arkeologi No. 14. Medan: Balai Arkeologi Medan.



One thought on “Sarkofagus Samosir

  • 18 Oktober 2020 pada 18:48
    Permalink

    Saya ada menemukan sarkopagus di kota ambarita yg sudah terhimpit oleh akar pohon hariara/beringin.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *