Rumah Peradaban Samosir 2020

Hits: 155

Salah satu program rutin yang dijalankan oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara pada Tahun 2020 berupa penyelenggaraan kegiatan Rumah Peradaban, dimana kegiatan ini dilaksanakan sebanyak dua kali setiap tahunnya bertepatan di Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Samosir. Untuk pelaksanaan Rumah Peradaban Samosir berlangsung pada Rabu, 12 Agustus 2020 di Saulina Resort yang rencana awalnya kegiatan ini dikhususkan bagi siswa/siswi Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), namun karena masih dalam masa Pandemi Covid-19 kegiatan Rumah Peradaban Samosir mengalami perubahan dalam skema pelaksanaannya.

Rumah Peradaban Samosir dilaksanakan  di aula pertemuan Saulina Resort yang merupakan kawasan zona hijau namun dalam pelaksanaannya tetap memperhatikan protokol kesehatan yang dianjurkan seperti kegiatan tidak dihadiri oleh siswa namun dihadiri oleh tenaga pendidik/guru, menjaga jarak aman tempat duduk peserta undangan dan mengurangi pembatasan sosial dalam sekala besar dalam hal ini setiap sekolah dalam keikutsertaannya hanya mewakilkan satu guru sebagai peserta. Kegiatan ini dihadiri oleh empat (4) orang dari Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Samosir, empat puluh (40) orang  tenaga pendidik/guru di wilayah Kabupaten Samosir yang terdiri dari dua puluh (20) orang tenaga pendidik/guru Sekolah Dasar (SD) dan  dua puluh (20) orang tenaga pendidik/guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah Kabupaten Samosir.

Dalam kesempatan ini narasumber yang dihadirkan sebanyak tiga (3) orang, antara lain mewakili Balai Arkeologi Sumatera Utara, Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si. Dinas Pendidikan Kabupaten Samosir, Drs. Rikardo Hutajulu, MPd. dan Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Samosir Teti Naibaho.

Pemaparan materi diawali oleh narasumber yang mewakili Dinas Pendidikan Kabupaten Samosir, dengan judul Geopark Kaldera Toba, Kekayaan Ilmiah Pendidikan Samosir”, dalam paparannya narasumber menyampaikan menurut sebuah sumber yang kami baca ada empat kali letusan yang terjadi di Samosir dalam kurun waktu ribuan tahun yang lalu, Letusan pertama terjadi sekitar 850.000 tahun yang lalu yang menghasilkan kaldera (kawah) di sebelah timur kawasan Danau Toba, yakni di Porsea.  Letusan kedua terjadi sekitar 500.000 tahun yang lalu, yang membentuk kaldera (kawah) di sebelah utara kawasan Danau Toba, yakni sekitar Haranggaol. Lanjut letusan ketiga adalah letusan yang terdahsyat terjadi sekitar 75.000 tahun yang lalu disebut sebagai letusan supervolcano. Konon sebagian besar material dimuntahkan dan terlempar jauh mengakibatkan sekitar enam tahun bumi menjadi gelap. Letusan ini yang banyak mengeluarkan atau memuntahkan material menyebabkan kawahnya kosong membentuk kubah besar yang disebut kawah/kaldera Toba. Letusan yang ke-empat magmanya tidak kuat sehingga Pulau Samosirnya terangkat maka dari itu sejarah di Pulau Samosir itu masih muda karena baru terangkat dibanding yang di pulau Sumatera.

Dilanjutkan pembahasan terkait hakikat pendidikan, dalam paparannya hakikat pendidikan merupakan suatu  proses menumbuh kembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional dan global. Kenapa dimulai dari bedimensi lokal tujuannya agar anak didik mengenal sejarah akan daerahnya, potensi yang besar yang dihasilkan dari daerahnya sendiri, setelah itu baru berdimensi nasional dan seterusnya sampai global. Itulah pentingnya pendidikan muatan lokal yang diajarkan di sekolah. Muatan lokal sendiri merupakan panduan dari pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan kemampuan untuk menyesuaikan pendidikan dengan kondisi aktual di setiap daerah. Gunanya agar anak mengenal potensi daerah, potensi daerah bukan hanya bahasa daerah disitu ada adat istiadat, sumber budaya, kesenian, kerajinan, masakan khas daerah, media dan transfortasi, struktur sosial, keagamaan, aktivitas sosial dan lain-lain.

Dilanjutkan pemaparan materi kedua diisi oleh narasumber yang mewakili Balai Arkeologi Sumatera Utara dengan judul Pulau Samosir Dalam Data Arkeologis & Penguatan Karakter”. Dalam paparannya menyampaikan bahwa tugas utama Balai Arkeologi Sumatera Utara adalah melaksanakan penelitian arkeologi, terkait penelitian arkeologi di Kabupaten Samosir dimulai pada tahun 1995 dilakukan survey arkeologi sehingga dapat diketahui objek tinggalan arkeologis seperti makam, arca batu yang banyak ditemukan di daerah pesisir dataran rendah. Pertanyaannya mengapa objek arkeologis banyak ditemukan di dataran rendah? Karena dataran rendah lebih subur dan umumnya disukai sebagai tempat tinggal pada masa itu dan memudahkan untuk bercocok tanam. Masyarakat atau nenek moyang orang Batak pertama kali datang melalui Pusuk Buhit terus ke Sianjur Mula-Mula dan memanfaatkan lahan luas untuk bercocok tanam/bertani. Mengapa Sianjur Mula-Mula dipilih sebagai tempat yang cocok untuk bertani? Karena di Sianjur Mula-Mula mempunyai sumber air yang melimpah, lahannya datar dan subur dan dalam informasi yang lain menyebutkan Si Raja Batak turun dari Pusuk Buhit untuk tinggal di Sianjur Mula-Mula.

Kemudian terkait budaya narasumber menyampaikan dahulu kala ada migrasi ketika daerah Barus menjadi pelabuhan terkenal di masa lalu, orang-orang ini datang untuk mencari emas, kemenyan, dan kapur. Pada masa inilah, terjadi kontak budaya antara Batak Toba dengan budaya lain. Jadi perlu diketahui bahwa budaya Batak Toba bukan budaya yang tertutup, masyarakat Batak sudah berinteraksi dengan budaya lain yang kemudian membentuk budaya Batak yang kita kenal seperti sekarang ini.

Selanjutnya pemaparan materi ketiga diisi oleh narasumber yang mewakili Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Samosir berjudul Paparan Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Samosir Pada Kegiatan Rumah Peradaban Balai Arkeologi Sumatera Utara”. Dalam pemaparan ini narasumber menjelaskan secara singkat tentang Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, terdapat sebelas (11) Objek Pemajuan Kebudayaan yakni :

  1. Manuskrip
  2. Tradisi Lisan
  3. Adat Istiadat
  4. Ritus
  5. Pengetahuan Tradisional
  6. Teknologi Tradisional
  7. Seni
  8. Bahasa
  9. Permainan Rakyat
  10. Olahraga Tradisional
  11. Cagar Budaya (Sarkofagus/ kubur batu, tinggalan megalitik, rumah batak, dsb)

Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Samosir menyampaikan bahwa dari Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Samosir bersinergi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Samosir, sudah mengadakan berbagai lomba dan kegiatan-kegiatan untuk mendorong masyarakat dari berbagai kalangan (pengrajin, seniman, akademisi, murid sekolah, umum) mengembangkan seni kebudayaan Batak. Usaha tersebut masih perlu didorong dengan bantuan guru-guru sekolah yang menjadi garda terdepan pada proses pengajaran. Harapannya adalah guru-guru sekolah mampu mengemas materi-materi pelestarian budaya setempat dalam bentuk yang lebih mudah dipahami oleh murid-murid sekolah, agar kecintaan serta pemahaman akan pentingnya pelestarian budaya setempat dapat dipupuk sejak dini.

Setelah pemaparan oleh ketiga narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan alat peraga secara simbolis berupa miniatur Candi Bahal yang berada di Padang Lawas kemudian dilanjutkan membuka sesi diskusi atau tanya jawab untuk memberikan kesempatan bagi peserta untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahui terkait sejarah dan budaya dengan tujuan untuk membantu para peserta agar mereka semakin memahami materi yang telah disampaikan oleh narasumber.

Adapun Kegiatan ini bertujuan sebagai sarana edukasi dan pemasyarakatan hasil penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Balar Sumut untuk memberikan pemahaman tentang sejarah, budaya dan ilmu terkait lainnya kepada masyarakat luas pada umumnya, khususnya para tenaga pendidik/guru dan diharapkan sepulangnya dari kegiatan ini dapat menyampaikan kepada para siswa di sekolahnya akan arti pentingnya menjaga dan melestarikan  tinggalan sejarah dan budaya khususnya di wilayah Kabupaten Samosir.

Berikut ketika pelaksanaan kegiatan rumah peradaban Samosir yang dilaksanakan di aula pertemuan Saulina Resot berlangsung pada Rabu, 12 Agustus 2020. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *