RUMAH PERADABAN GAYO(2017)

Hits: 75

RUMAH PERADABAN GAYO merupakan salah satu bentuk kegiatan Balai Arkeologi Sumatera Utara tahun 2017. Kegiatan ini merupakan wadah dari berbagai kegiatan yang meliputi  penelitian arkeologis (belajar bersama arkeolog), dan penyebarluasan informasi hasil penelitian (FGD, sarasehan, pembuatan peta digital dan pembuatan dokumentasi). Kegiatan Rumah Peradaban Gayo, dipilih sesuai dengan keberadaan etnis di wilayah yang menjadi pusat kajian yaitu wilayah budaya etnis Gayo. Dengan label tersebut diharapkan semakin mempererat keterikatan antara informasi yang dikandung di situs Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang dengan masyarakat tempatan yaitu masyarakat etnis Gayo. Keterikatan itu diawali dari anak didik, melalui berbagai pengenalan kegiatan penelitian dan pemaknaan hasil penelitian. Hal tersebut dilakukan agar di masa depan  telah tumbuh karakter masyarakat yang dapat memaknai dan melestarikan kebudayaannya.  Pemilihan kegiatan di Tanah Gayo tidak lepas dari telah berlangsungnya penelitian sejak tahun 2009 hingga sekarang, sehingga hasilnya cukup memadai dalam mengungkapkan berbagai aspek yang terkait dengan migrasi nenek moyang hingga terbentuknya etnis dan berbagai proses budaya yang menyertainya berserta tata nilai masyarakatnya.

Penelitian yang telah dilakukan selama ini di Situs Loyang Mendale mulai jelas menginformasikan aktivitas  pada kisaran awal holosen di dataran tinggi Gayo. Manusia dan kebudayaan pada masa itu sebelumnya hanya diketahui di dataran rendah dari situs bukit kerang di pesisir timur Pulau Sumatera. Situs di dataran tinggi tersebut menyimpan berbagai produk budaya yang memiliki kesamaan dengan budaya Hoabinh dengan ras pendukungnya Australomelanesoid. Pada rentang aktivitas pendukung budaya Hoabinh ini, juga diketahui adanya aktivitas pendukung budaya Austronesia dengan ras Mongoloid. Berdasarkan hal tersebut maka diindikasikan adanya pembauran pada kisaran 5000 tahun yang lalu di situs Loyang Mendale tersebut. Tentu pembauran itu tidak hanya menyangkut manusianya saja tetapi juga budayanya. Oleh karena itu, akar pluralisme dan multikulturalisme bisa didapatkan dari berbagai aspek budaya di situs ini. Sejalan dengan hal itu, adanya migrasi Austronesia Prasejarah di Indonesia bagian barat yang selama ini tidak banyak diberitakan dalam berbagai penelitian arkeologis.

Aspek lainnya yang juga cukup menarik adalah ditemukannya berbagai cangkang moluska yang hidup di air asin dan payau yang mengindikasikan aspek kemaritiman terbawa hingga ke dataran tinggi di Tanah Gayo. Selain itu data aspek religi yang cukup melimpah juga ditemukan melalui keberadaan kerangka manusia dalam posisi terlipat. Untuk teknologi selain dapat dikenali dari peralatan batu dan tembikar juga dari sisa anyaman rotan yang ditemukan bertarihkan 4400 tahun yang lalu. Estetika juga tampaknya memegang peran penting pada masa Neolitik, hal tersebut diketahui melalui temuan manik-manik baik yang berbahan batuan, tulang hewan ataupun cangkang siput . Selain itu aspek estetika juga banyak ditemukan  pada pola hias  di permukan tembikar.

Informasi itu menjadikan Situs Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang memiliki peran yang penting dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan arkeologi pada khususnya. Keberadaan informasi itu menjadikan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah turut mendukung penelitian arkeologi dengan menyiapkan program-program penelitian.  Sejalan dengan itu juga dilakukan pembuatan casting bagi beberapa kerangka manusia yang ditemukan. Hal itu dilakukan dalam upaya penyiapan situs sebagai objek wisata (open site museum). Dalam perkembangan data yang dianalisis dari temuan kerangka manusia di situs tersebut diketahui bahwa kerangka-kerangka yang memiliki pentarihkan 3000—4000 tahun yang lalu itu, memiliki kesamaan DNA dengan masyarakat Gayo  sekarang ini.  Hal tersebut juga menjadikan situs itu sangat penting bagi masyarakat dalam kaitannya dengan keberadaan etnis Gayo. Untuk itu, keberadaan informasi tersebut sangat penting dalam membangun pemahaman tata nilai yang ditinggalkan nenek moyang, dan menumbuhkan kecintaan akan situs dan informasinya, sehingga terbentuk Karakter Pancasila bagi anak didik baik itu ditingkat Sekaloh Dasar (SD), Sekolah Menengah Tingkat Lanjut (SLTP) dan anak-anak di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

Liputannya dapat dilihat di sini