Rumah Peradaban di Gayo Berhasil dan Menjadi 1 Dekade Penelitian di Tanah Gayo

Hits: 44

Rumah Peradaban tahun 2019 Balai Arkeologi Sumatera Utara melakasanakannya di Tanah Gayo. Kegiatan ini juga menjadi sebuah wadah dari berbagai kegiatan yang meliputi  penelitian arkeologis atau belajar bareng, dan penyebarluasan informasi hasil penelitian yang telah dilaksananakan di tanah Gayo itu sendiri. Kegiatan Rumah Peradaban Gayo, dipilih sesuai dengan keberadaan etnis di wilayah yang menjadi pusat kajian yaitu wilayah budaya etnis Gayo. Dengan label tersebut diharapkan semakin mempererat keterikatan antara informasi yang dikandung di situs Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang dengan masyarakat tempatan yaitu masyarakat etnis Gayo. 

Kegiatannya sendiri dimulai dengan mengunjungi 4 SMA di daerah Takengon dan 2 SMA di Bener Meriah. Adapun maksud mengunjungi 6 SMA ini berguna untuk memberikan alat peraga pendidikan, buku pengayaan tentang penelitian Tanah Gayo beserta memberikan informasi tentang dunia arkeologi kepada siswa/i tersebut. Balai Arkeologi Sumatera Utara juga memberikan alat peraga pendidikan beserta buku pengayaan kepada Dinas Pendidikan Takengon dan Bener Meriah.

Puncak acara Rumah Peradaban itu sendiri dilakukan pada hari Rabu 31 Juli 2019 yang langsung dilaksakan di depan situs Loyang Mendale. Acara ini langsung dipimpin oleh peneliti Balai Arkeologi Sumatera Utara yaitu Bapak Taufiqurrahman Setiawan. Acara ini juga langsung diikuti perwakilan di pemerintahan Takengon dan pejabat setempat. 

Adapun acara yang dilaksakan yaitu berupa ajang edukasi ceria kepada anak-anak SD dari sekolah terdekat. Edukasi yang diberikan yaitu berupa cara membuat Gerabah yang langsung diajarin dilokasi, penyusunan kembali gerabah, dan ada juga penyusunan puzzle dari gambar-gambar penelitian.

Ajang ini juga diharapkan menjadi sebuah ajang edukasi masyarakat sekitar agar lebih peduli dengan sejarah yang selama ini berada disekitar mereka. Sehingga kedepannya, generasi penerus Tanah Gayo akan selalu mengingat dan melestarikan sejarah dan peninggalan leluhur mereka sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *