Perahu Diduga Cagar Budaya Ditemukan di Lingga, Arkeolog Sumatera Utara Lakukan Penelitian

Hits: 163

Tim Dinas Kebudayaan Lingga bersama Arkeolog Sumatera Utara dan masyarakat setempat berfoto di samping perahu diduga cagar budaya di Pantai Sebangka, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, Kamis (26/8/2021) 

LINGGA, TRIBUNBATAM.id – Sebuah perahu yang terbenam di Pantai Pulau Sebangka, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri menjadi sorotan.

Itu setelah perahu yang disebut ‘Jelo’ oleh masyarakat setempat itu diduga sebagai cagar budaya.

Pasalnya bentuk perahu yang ditemukan warga itu berbeda dari kebanyakan perahu yang ada saat ini.

Perahu yang memiliki panjang 12,55 meter dan lebar kurang lebih 1 meter itu pun bisa dibilang sudah tidak pernah ditemukan lagi sekarang ini.

Bentuk perahu yang diduga cagar budaya ini seperti jongkong, hanya saja ukurannya lebih panjang.

Atas temuan warga itu, Pemerintah Kabupaten Lingga, melalui Dinas Kebudayaan Lingga baru-baru ini mengevakuasi perahu tersebut.

Pemindahan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) itu dilakukan oleh tim Dinas Kebudayaan bersama Arkeolog Sumatera Utara dan masyarakat setempat, pada Kamis (26/8/2021) lalu.

Perahu yang terbenam itu saat ini masih diteliti oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara.

Kepala Dinas Kebudayaan Lingga, melalui staf Lazuardy mengatakan, pihaknya belum bisa menduga secara pasti berapa lama perahu tersebut tertimbun di dalam pasir pantai.

Ia mengatakan, dari informasi yang beredar, masyarakat menemukan perahu tersebut sekitar tahun 2007 atau 2010 lalu

Tim Dinas Kebudayaan Lingga bersama Arkeolog Sumatera Utara dan masyarakat setempat menggali perahu diduga cagar budaya di Pantai Sebangka, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, Kamis (26/8/2021) (tribunbatam.id/istimewa)

Namun baru pada tahun 2020 Dinas Kebudayaan mendapatkan laporan resmi dari masyarakat.

Pihaknya turun langsung dan melakukan survei atas laporan perahu diduga cagar budaya tersebut.

Pria yang dikenal dengan pecinta Sejarah ini pun belum bisa memastikan darimana perahu itu berasal.

Di lapangan pun, masyarakat masih sebatas menduga-duga. Ada yang mengaitkannya dengan peninggalan kerajaan Lingga, yakni Sultan Mahmud Ri’ayat Syah.

“Tapi itu hanya kata-kata dari masyarakat yang mengkait-kaitkan, kita belum memastikan,” kata Lazuardy kepada TribunBatam.id, Rabu (1/9/2021).

Saat ini pihaknya masih menunggu hasil penelitian dari Arkeologi Sumut.

Hal itu terkait pengambilan data dan sampel untuk analisa laboratorimun dan analisa morfologi guna mengetahui jenis kayu, pelapisan, serta usia kayu.

“Tapi jika dilihat ini memang suatu temuan yang mungkin unik ya untuk di Kabupaten Lingga,” ucapnya.

“Ini masih dugaan, masih mengumpulkan data-data,” sambungnya.

Dari pembahasan pihak Arkeolog Sumut, Lazuardy menjelaskan, selama mereka mengadakan penelitian, belum pernah melihat jenis perahu seperti itu.

Pihaknya pun memprediksikan bahwa itu merupakan alat transportasi Nusantara.

“Hanya jenis perahu itu yang baru mereka temukan di Kabupaten Lingga, dari seluruh tempat-tempat se-Indonesia yang pernah diteliti. Yang bentuk seperti ini, baru kali inilah mereka menemukannya,” jelas Lazuardy.

Lazuardi semakin memperkuat dugaan cagar budaya tersebut, karena jenis perahu itu tidak pernah ditemukan lagi di zaman sekarang.

“Jangankan perahu panjang itu, Jongkong saja sudah jarang dibuat orang lagi. Karena bahan bakunya di zaman sekarang sudah mulai susah,” ucapnya.

Lazuardy pun menerangkan, dari informasi yang beredar perahu tersebut diduga digunakan untuk membawa barang logistik, sebagai transportasi air, dan banyak lagi perkiraan masyarakat.

“Apakah itu dipakai untuk tentara sultan, itu masih perkiraan atau dugaan,” ujarnya.

“Kalau memang diisi untuk orang, mungkin 10 sampai 15 orang bisa muat,” tambahnya.

Peneliti Balai Arkeologi Sumatera Utara, Stanov Purnawibowo mengatakan, bahwa Jelo yang terbenam di pulau Sebangka itu memiliki usia tidak terlalu tua.

Meskipun hampir keseluruhan material perahu dibuat menggunakan kayu utuh dan ada jejak cadik.

“Tapi karakteristiknya perahu Nusantara, ada banyak pasak dan jejak cadik. Dari analisis morfologi, struktur kayu dari depan (haluan) ada penambahan materal kayu untuk penguat struktur, untuk mecah gelombang,” kata Stanov.


Penulis: Febriyuanda | Editor: Dewi Haryati







Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *