Pengenalan Arkeologi di Tapanuli Tengah

Hits: 59

Salah satu program yang mendukung pencapaian tugas dan fungsi Balai Arkeologi Sumatera Utara adalah program “Pengenalan Arkeologi” yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Pada tahun 2021 kegiatan ini dilaksanakan di Tapanuli Tengah pada Selasa, 9 Maret 2021, bertempat di Gedung Panca Prima, Pandan, Tapanuli Tengah. Dihadiri oleh Kepala BPCB Aceh, steakholder- steakholder terkait dan masyarakat serta tiga puluh empat (34) orang  siswa dan delapan (8) orang guru pendamping yang berasal dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah.

Tahun ini, pelaksanaan program kegiatan pengenalan arkeologi berlangsung di Tapanuli Tengah, karena di daerah ini khususnya di situs Bukit Bongal, Desa Jago-Jago, Kecamatan Badiri banyak ditemukan objek cagar budaya berupa fragmen tembikar, keramik, logam, koin kuno, manik-manik yang tentunya akan sangat menarik untuk dibahas lebih dalam bersama siswa dan guru sekolah di daerah ini, sehingga akan diperoleh informasi mengenai objek cagar budaya yang ditemukan di daerahnya tersampaikan pada generasi sekarang, terutama yang bersifat arkeologis.

Pada kesempatan ini, narasumber yang dihadirkan sebanyak tiga orang, mewakili Balai Arkeologi Sumatera Utara Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tapanuli Tengah Tiramin Tamba, SE dan BPCB Aceh Drs. Nurmatias dengan moderator Repelita Wahyu Oetomo, SS dari Balai Arkeologi Sumatera Utara.

Pemaparan materi diawali oleh narasumber yang mewakili Dinas Kabupaten Tapanuli Tengah dengan judul “Situs Bongal”. Dalam paparannya narasumber menyampaikan bahwa di Kabupaten Tapanuli Tengah sedikitnya ada 22 situs yang tersebar di daerah ini antara lain di Barus, Barus Utara, Sorkam, dan Badiri. Terkait dengan situs Bongal yang berada di Desa Jago-Jago Kecamatan Badiri, pada tahun 2001 ditemukan arca Ganesa oleh Balarsumut dan pada tahun 2019 keberadaan arca tersebut mengalami kerusakan, menurut informasi dari masyarakat dulunya arca tersebut berjumlah 2 arca namun pada saat ini hanya tersisa 1 arca.

Lokasi situs jauh dari permukiman warga, untuk mencapai lokasi tersebut dibutuhkan alat transportasi berupa perahu mesin untuk menyusuri sungai dan dilanjutkan perjalanan kaki sekitar 30 menit lamanya. Awal mula ditemukan benda diduga cagar budaya di Situs Bongal berasal dari aktifitas masyarakat yang melakukan penambangan emas. Seiring berjalannya waktu aktifitas ini sampai ke dinas, dan dilakukan pengecekan terkait aktifitas tersebut ke lokasi penambangan dan ditemukannya berbagai benda diduga cagar budaya masa lalu berupa fragmen keramik, gerabah, logam dan lain sebagainya.

Atas dasar temuan inilah maka di tahun 2019 dibuatkan surat yang ditujukan ke instansi Balar Sumut dan BPCB Aceh untuk dilakukan peninjauan terkait benda tersebut, maka di tahun 2020 Balar Sumut dan BPCB Aceh melakukan pendokumentasian terhadap objek arkeologis yang ditemukan oleh para penambang emas di kawasan sekitar Bukit Bongal, Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Kemudian pada tahun 2021 Balar Sumut melakukan penelitian terhadap Situs Bongal diikuti oleh BPCB Aceh yang melakukan pendataan dan pemetaan di lokasi situs. Hasil kesimpulan sementara yang diperoleh adalah Situs Bongal lebih awal ± 200 tahun dibanding situs tertua di Barus, yakni di Lobu Tua, antara abad VII-IX M, Situs Bongal adalah satu pelabuhan dan pemukiman dengan berbagai aktifitas sehari-hari yang kompleks, komoditas yang dihasilkan alam nusantara seperti emas, kamper, kemenyan, pala, damar, kemiri dan pinang menjadi alasan para pelaut dan para pedagang mancanegara dan nusantara singgahi Bongal di masa lalu dan Situs bongal boleh jadi adalah tempat terawal masuknya islam di Nusantara.

Selanjutnya pemaparan materi kedua yang mewakili Balai Arkeologi Sumatera Utara dengan judul “Arkeologi dan Nilai Penting” dalam paparannya narasumber menyampaikan ilmu arkeologi adalah ilmu yang mempelajari masyarkaat dan kebudayaan masa lampau berdasarkan tinggalannya yang tersisa saat ini, baik untuk kepentingan ilmu pengetahuan ataupun kepentingan lainnya, atau disebut juga dengan ilmu purbakala. Ilmu arkeologi tidak bisa berdiri sendiri, namun bisa dengan beberapa ilmu lain seperti biologi, antropologi dan sejarah, sehingga informasi yang baik diperoleh dari kerja sama dengan berbagai bidang ilmu.

Ujud objek penelitian arkeologi antara lain berupa; artefak, merupakan benda alam yang diubah oleh manusia baik sebagian atau keseluruhan yang merupakan sisa aktivitas masa lampau, kemudian ekofak adalah unsur alam hayati tidak sengaja termodifikasi oleh manusia masa lampau dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, selanjutnya fitur adalah artefak yang tidak dapat diangkat dari tempat kedudukannya (matriks) tanpa merusak missal bekas lantai, sumur, parit, lubang kubur dan lain-lain, kemudian situs merupakan tempat ditemukannya artefak, ekofak, dan fitur.

Selanjutnya pengumpulan data arkeologi dilakukan dengan cara survei. Survei bisa dilakukan dari udara, darat dan bawah air. Kemudian ekskavasi yaitu penggalian tanah untuk mencari temuan yang kemudian dianalisa secara langsung ataupun melalui analisa laboratorium.

Arkeologi dimulai dari informasi kecil hingga menghasilkan informasi yang komprehensif. Kehidupan masa lalu di Tapteng yang terbukti sudah maju, harus memotivasi masyarakat yang hidup di era sekarang untuk lebih maju lagi, bisa jadi masyarakat yang ada sekarang adalah hasil pembauran yang terjadi sejak zaman dahulu, sehingga tidak selayaknya ada masyarakat yang membeda-bedakan diri saat ini.

Kemudian hasil penelitian dituangkan dalam bentuk tulisan, seperti jurnal, buku dan komik agar ilmu tersebut kekal dan dapat dipelajari turun temurun disesuaikan dengan sasaran pembaca. Selain itu juga ada kegiatan Rumah Peradaban yang memperkanalkan situs langsung ke para siswa di lokasi penelitian.

Selanjutnya pemaparan materi ketiga mewakili BPCB Aceh dengan judul “Objek Diduga Cagar Budaya Desa Jago-Jago, Kec. Badiri Kab. Tapanuli Tengah” dalam kesempatan ini narasumber menyampaikan bahwa berkaitan dengan UU No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda, bangungan, struktur, dan kawasan di darat/air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting.

Situs Bongal ditetapkan sebagai ODCB, Objek Diduga Cagar Budaya, maka dari itu generasi sekarang diharapkan tumbuh semangat untuk belajar sejarah. Proses penetapan Cagar Budaya dimulai dari ODCB lalu diteliti mengenai nilai pentingnya, lalu ditemukan bahwa ODCB tersebut memiliki usia dan gaya di atas 50 tahun kemudian diketahui arti penting terhadap masyarakat yang lebih luas, maka ditetapkanlah sebagai Cagar Budaya.

Untuk di Tapanuli tengah, diberikan beberapa rekomendasi untuk Pemda terkait cagar budaya yaitu: Pembentukan Tim Ahli Cagar Budaya, Mengalokasikan anggaran untuk pembebasan lahan potensi cagar budaya, Mengalokasikan anggaran untuk pengembangan cagar budaya di Desa Jago-Jago.

Kemudian rekomendasi untuk Aparatur Desa terkait cagar budaya di Tapteng: Melakukan pembinaan kepada masyarakat untuk lebih peduli dan mendorong masyarakat untuk beralih profesi ketika tempat galiannya ada cagar budaya selanjutnya melaporkan temuan tersebut pada dinas terkait di daerahnya.

Selanjutnya rekomendasi untuk masyarakat tecrkait cagar budaya di Tapteng; Membentuk komunitas sadar budaya di Desa Jago-Jago dan ikut serta membantu pemerintah terkait pelestarian cagar budaya. BPCB berharap agar Tapteng segera membentuk Tim Ahli Cagar Budaya, apabila tahun ini belum bisa maka tahun ini menggunakan TACB Provinsi Sumut dahulu.

Setelah pemaparan oleh ketiga narasumber selesai, kegiatan dilanjutkan dengan membuka sesi diskusi atau tanya jawab dengan tujuan untuk memberikan ruang bagi peserta yang notabene berasal dari siswa dan guru pendamping untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahui sekaligus memberikan tanggapan ataupun tambahan-tambahan informasi terkait sejarah budaya dan tinggalan arkeologi di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah maupun sejarah, budaya dan tinggalan arkeologi di tingkat nasional.

Adapun Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan lebih dekat kepada siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan arkeologi baik dari aspek pelaksanaan penelitian maupun tinggalan-tinggalannya, termasuk juga aspek budaya setempat, serta stakeholder-stakeholder yang terkait. Kegiatan “Pengenalan Arkeologi” ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang hal-hal yang terkait dengan arkeologi, sehingga dapat menggugah kesadaran dan semangat untuk terus melestarikan tinggalan arkeologi sebagai bagian dari hasil budaya bangsa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *