Pengenalan Arkeologi Di Kabupaten Karo Berhasil Dilaksanakan

Hits: 364

Sebagai wujud dari tugas pokok dan fungsi Balai Arkeologi Sumatera Utara, setiap tahunnya secara rutin memprogramkan kegiatan “Pengenalan Arkeologi” bagi siswa/siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan/atau Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada tahun 2020 ini kegiatan tersebut dilaksanakan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tepatnya pada Rabu, 04  Maret 2020 berlangsung di ruang Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Karo. Kegiatan ini dihadiri oleh empat puluh (40) orang  siswa dan sepuluh (10) orang guru pendamping di wilayah Kabupaten Karo yang terdiri dari dua puluh (20) orang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) beserta lima (5) orang guru pendamping dan dua puluh (20) orang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) beserta lima (5) orang guru pendampingnya.

Mengapa Kabupaten Karo? Sebab masyarakat Karo memiliki kebudayaan yang sangat kompleks yang berlangsung sejak masa-masa awal hingga perkembangannya di masa sekarang. Dalam perkembangannya, kebudayaan Karo menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas lebih dalam, terutama bersama siswa dan guru di sekolah, sehingga akan diperoleh gambaran mengenai tingkat pengetahuan mereka terhadap kebudayaan setempat, utamanya yang bersifat arkeologis. Dengan demikian kegiatan ini akan bersifat dua arah. Materi bukan hanya diberikan oleh penyelenggara (narasumber) kepada peserta semata, namun sebaliknya, peserta juga diharapkan dapat memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada Balai Arkeologi sehingga di masa-masa mendatang dapat dilakukan penjajagan (penelitian) berdasarkan informasi yang diperoleh.

Dalam pelaksanaannya narasumber yang dihadirkan sebanyak tiga (3) orang, masing-masing mewakili Balai Arkeologi Sumatera Utara, Nenggih Susilowati, SS,M.I.Kom. Dinas Pendidikan Kabupaten Karo, Dr. Eddi Surianta, M.Pd. dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo, Erma Julita S.Si., M. Kom.

Sesi pemaparan materi diawali oleh narasumber yang mewakili Dinas Pendidikan Kabupaten Karo, berjudul “Kebudayaan dalam Pendidikan”. Dalam paparannya narasumber menyatakan bahwa kebudayaan merupakan totalitas yang kompleks mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan pendidikan merupakan usaha untuk mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Cita-cita Dinas Pendidikan adalah meningkatkan mutu hidup, bukan sekedar mutu pendidikan. Moto pendidikan di Kabupaten Karo adalah “Karo strong from classroom”. Juga dikenal moto yang selalu digaung-gaungkan oleh salah satu orang sukses dari Tanah Karo dalam akun media sosialnya, yaitu “BKS (bisa karena sekolah)”. Jorgan itu sangat memberikan motivasi bagi yang membacanya. Dalam menggunakan media sosial kita seharusnya selalu berpandangan positif serta mengembangkan nilai-nilai yang baik. Dan senantiasa memberikan motivasi bagi orang lain dan diri sendiri. Media sosial jangan hanya digunakan sebagai ajang untuk mengeluh dan selfie.

Pendidikan dan kebudayaan sangat berhubungan erat. Budaya memang berkembang dengan sendirinya, akan tetapi nilai-nilai budaya tadi, nilai-nilai luhur nenek moyang kita tidak akan sampai ke generasi sekarang tanpa adanya proses belajar yang panjang.

Dilanjutkan Sesi pemaparan materi kedua diisi oleh narasumber yang mewakili Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo berjudul “Kebudayaan Karo Secara Umum”. Dalam paparannya dikatakan bahwa saat ini nilai budaya mulai bergeser. Anak anak zaman sekarang cenderung menggunakan gadget, media sosial dan laptop. Dalam paparannya narasumber menghimbau agar anak-anak berhati-hati dalam menggunakan internet dan media sosial. Hal yang sudah terlanjur diposting jejak rekamnya akan tersimpan selamanya. Jangan sampai di kemudian hari tersandung masalah hukum karena memposting hal-hal yang belum tentu diketahui kebenarannya (hoaks).

Saat ini nilai budaya sudah bergeser karena keberadaan handphone (HP). Sebenarnya kecanduan HP bisa dihilangkan dengan terapi 29 hari. Dalam 29 hari itu kita hanya diperbolehkan memegang HP selama 1 jam saja setiap harinya. Jika terapi 29 hari itu dapat dilalui, maka besar harapan kita tidak lagi memiliki ketergantungan terhadap HP.

Mulai saat ini budayakanlah belajar. Budaya adalah kebiasaan. Maka budaya belajar sama artinya dengan membiasakan diri untuk belajar, atau membaca. Kebiasaan di masa kini kita selalu mencari informasi dari internet. Kalau tidak tahu mengenai suatu hal langsung bertanya saja kepada “Mbah Google”. Hal itu tentunya berbeda dengan jika kita membaca buku. Jika membaca buku, bahkan yang tidak ditanya pun terpaksa dibaca sehingga semakin menambah pengetahuan kita. Trik belajar setelah membaca adalah dengan cara meringkas atau menulis kembali yang kita baca agar kita selalu ingat yang kita pelajari sebelumnya. Maka mulailah budayakan kebiasaan menulis dari sekarang. Orang yang terkenal bisa membuat buku. Tetapi kita bahkan sekedar mencatatpun tidak mau. Kalau kita terus mempertahankan kebiasaan buruk itu, lalu kapan kita akan menjadi pintar?. Budayakanlah membaca, mengerti dan menulis. Pergunakan peralatan elektronik sesuai dengan fungsinya.

Kembali ke kebudayaan masyarakat Karo, dimana kegigihan dan semangat gotong royong yang dimiliki masyarakat Karo. Peninggalan orang Karo cukup banyak namun sekarang tidak semuanya berada di Kabupaten Karo. Ada rumah adat, makam Putri Hijau, meriam puntung, pura, masjid lama Kabanjahe, dan juga rumah pengasingan Bung Karno.

Selanjutnya Sesi pemaparan materi ketiga diisi oleh narasumber yang mewakili Balai Arkeologi Sumatera Utara berjudul “Sekilas tentang Arkeologi”. Dalam pemaparan ini dijelaskan secara singkat tentang maksud dari arkeologi beserta paradigmanya. Juga dijelaskan mengenai pembabakan dalam studi arkeologi, yaitu dari masa prasejarah beserta tinggalan-tinggalannya seperti hunian gua dan budayanya; masa sejarah/klasik/Hindu-Buddha dengan contoh tinggalannya berupa candi-candi di Padang Lawas; sejarah Islam dengan tinggalan-tinggalannya berupa Tamansari Gunongan dan makam-makam Islam; sejarah masa kolonial dengan tinggalan-tinggalannya yang berupa kuburan Belanda, inskripsi, dan persenjataan seperti meriam.

Dilanjutkan dengan pembahasan mengenai peninggalan arkeologis atau hasil budaya Karo. Dalam hal ini diuraikan sedikit mengenai gua umang yang banyak terdapat di Tanah Karo. Juga bangunan-bangunan bersejarah di antaranya rumah pengasingan Soekarno dan juga rumah-rumah adat Karo di Desa Lingga yang mulai hilang karena dijual oleh pewarisnya. Sumber-sumber tertulis berupa pustaha laklak juga merupakan tinggalan arkeologi. Artefak-artefak bernilai budaya seperti berbagai bentuk perhiasan tradisional Karo yang terbuat dari emas maupun perunggu atau tembaga juga merupakan hasil budaya yang dinilai sangat penting.

Selanjutnya juga dijelaskan mengenai cara kerja arkeologi, yaitu dengan pengumpulan data melalui kegiatan survei termasuk di dalamnya survei bawah air dan survei udara; pengumpulan data berupa ekskavasi; analisis data dan klasifikasi; juga analisis data prasasti. Kegiatan akhir berupa analisis laboratorium, penyusunan laporan dan publikasi hasil penelitian yang dituangkan dalam jurnal elektronik dan tercetak.

Setelah pemaparan oleh ketiga narasumber, kegiatan ini dilanjutkan dengan membuka sesi diskusi atau tanya jawab dengan tujuan untuk memberikan ruang seluas-luasnya bagi peserta yang notabene berasal dari siswa dan guru pendamping untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahui sekaligus memberikan tanggapan ataupun tambahan-tambahan informasi terkait sejarah budaya dan tinggalan arkeologi di wilayah Kabupaten Karo dan sekitarnya maupun sejarah, budaya dan tinggalan arkeologi di tingkat nasional.

Adapun Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan lebih dekat kepada siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan arkeologi baik dari aspek pelaksanaan penelitian maupun tinggalan-tinggalannya, termasuk juga aspek budaya setempat, serta stakeholder-stakeholder yang terkait. Kegiatan “Pengenalan Arkeologi” ini diharapkan dapat memberikan informasi seluas-luasnya tentang hal-hal yang terkait dengan arkeologi, sehingga dapat menggugah kesadaran dan semangat untuk terus melestarikan tinggalan arkeologi sebagai bagian dari hasil budaya bangsa. Dengan demikian diharapkan program rutin ini dapat menghasilkan tanggapan positif dari para peserta yang terdiri dari siswa/siswi SMP dan SMA di Kabupaten Karo beserta guru pendampingnya, terutama guru bidang studi sejarah/Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Berikut ketika pengenalan arkeologi di Kabupaten Karo yang dilaksanakan di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Karo berlangsung pada Rabu, 04 Maret 2020. 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “Pengenalan Arkeologi Di Kabupaten Karo Berhasil Dilaksanakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *