Penelitian Arkeologi Terkait Sumber Tertulis Beraksara Pakpak di Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat, Sumatera Utara

Hits: 84

Pada tanggal 31 Mei sampai dengan 19 Juni 2021, Balai Arkeologi Sumatera Utara melakukan penelitian arkeologi di wilayah Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Bharat. Penelitian tersebut berjudul “Karakteristik Sumber Tertulis Beraksara Pakpak Pada Etnis Pakpak di Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat, Sumatera Utara” dan diketuai oleh Churmatin Nasoichah, S.Hum, Peneliti Epigrafi Balai Arkeologi Sumatera Utara. Adapun anggota dari penelitian tersebut di antaranya Dr. Ninny Soesanti Tedjowasono (Dosen Epigrafi dari Universitas Indonesia), Wahyu Rizky Andhifani, S.S., M.M. (Peneliti Epigrafi dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan), Dr. Tomson Sibarani, S.S., M.Hum (Peneliti Bahasa Batak dari Balai Bahasa Sumatera Utara),  Drs. Mehammat Br. Karo Sekali (Pamong Budaya Batak dari Museum Negeri Prov. Sumatera Utara), Lolita Refani Lumban Tobing, S.Hum (Staf Balai Arkeologi Sumatera Utara), Elisabeth Yuniati A.Md (Staf Balai Arkeologi Sumatera Utara), dan Winda Lydia Lubis, S.Psi (Staf Balai Arkeologi Sumatera Utara). Selain itu penelitian tersebut juga melibatkan beberapa pemerhati budaya Pakpak di antaranya Melisa Padang dan Sofianto Padang.

Pada penelitian yang dilaksanakan selama 20 hari tersebut difokuskan pada tinggalan-tinggalan artefaktual berupa sumber tertulis beraksara Pakpak baik yang ditulis pada media keras seperti batu maupun media lunak seperti kulit kayu. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan beberapa sumber tertulis beraksara Pakpak di antaranya Prasasti Ganda Surung 1 (C1/Ganda Surung/2021) dan Prasasti Ganda surung 2 (C2/Ganda Surung/2021) yang ditemukan di Desa Pegagan Julu VIII, kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi; Prasasti Batu Tettal Pasi (C3/Pasi/2021) yang ditemukan di Desa Pasi, Kecamatan Berampu, Kabupaten Dairi; Prasasti Batu Tettal Sortagiri (C4/Sortagiri/2021) yang ditemukan di Desa Siempat Rube I, Kecamatan Siempat Rube Kabupaten Pakpak Bharat; Prasasti Batu Tettal Lae Langge (C5/Laelangge/2021) yang ditemukan di Desa Laelangge-Namuseng, Kecamatan Sitelu Tali Urang Jalu, Kabupaten Pakpak Bharat; Lapihen Laklak Kudadiri (A1/Kudadiri/2021) yang ditemukan di Desa Lae Nuaha, Kecamatan Siempat Nempu Hulu, Kabupaten Dairi; Lapihen Laklak 1 (A1/Maha/2021), Lapihen Laklak 2 (A2/Maha/2021), Lapihen Laklak 3 (A3/Maha/2021), Lapihen Laklak 4 (A4/Maha/2021), dan Lapihen Laklak 5 (A5/Maha/2021) yang berasal dari Desa Sungai Raya, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Kabupaten Dairi.

Adapun kendala yang dihadapi saat penelitian dilakukan di antaranya minimnya informasi yang diberikan karena ketidaktahuan informan terhadap artefak yang ada, kurangnya keterbukaan terhadap pendatang (para peneliti) dan munculnya kecurigaan karena ketakutan akan adanya unsur-unsur politik sehingga dapat membahayakan mereka di kemudian hari, jangkauan lokasi penelitian dengan kota yang cukup jauh dan juga jalanan yang cenderung kurang bagus mengakibatkan waktu lebih lama berada di jalan, beberapa prasasti sudah dicat sehingga mengalami kesulitan saat pembacaan, kondisi prasasti juga banyak yang sudah aus sehingga hanya Sebagian saja yang bisa terbaca, banyaknya naskah-naskah kuno yang sudah dijual atau berpindah tangan sehingga sulit mendapatkannya lagi serta ketidakterbukaan para pemilik naskah terkait keberadaan naskah-naskah kuno dikarenakan adanya ketakutan untuk diambil/dibeli.

Kegiatan penelitian ini merupakan langkah awal Balai Arkeologi Sumatera Utara dalam mengungkap bukti tertulis artefaktual beraksara Pakpak yang merupakan salah satu dari sekian aksara turunan Palawa. Dengan keterlibatan dari berbagai instansi dan disiplin ilmu diharapkan penelitian ini dapat menghasilkan kesimpulan terkait karakteristik aksara Pakpak. Dengan mengaitkan antara prasasti, naskah kuno (lapihen laklak) dan artefak-artefak lainnya yang ditemukan, misalnya perabuen maupun mejan manusia penunggang binatang serta dikaitkan dengan lokasi ditemukannya, diharapkan dapat mengaitkan artefak-artefak yang ditemukan dengan konteks budaya masyarakat Pakpak pada masa lalu.
Penulis: Churmatin Nashoicah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *