Penelitian Arkeologi: Ragam Hias di Loyang Mendale Berasal dari Budaya Sa-Huynh Kalanay Vietnam

Hits: 19

Repost

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Ragam hias pada gerabah yang ditemukan Tim Peneliti Balai Arkeologi Sumatera Utara di Loyang Mendale dan Loyang Muslimin Tepi Danau Laut Tawar Aceh Tengah memiliki kesamaan dengan pola hias dari kelompok budaya Sa-Huynh Kalanay yang tersebar di Vietnam. Kelompok budaya ini juga mongoloid Austronesia namun paling belakangan  penyebarannya dalam era zaman prasejarah.

Demikian disampaikan Kepala Balai Arkeologi  Sumatera utara Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si yang menjadi Ketua Tim Peneliti Ceruk Mendale Aceh Tengah. Ia menyebutkan ragam hias yang mereka temukan berupa gerabah, ditemukan di Loyang Muslimin dan Loyang Mendale.  

“Produknya pasca 2000 SM. Kelompok budaya Sa-Huynh Kalanay inilah yang memberi banyak variasi dalam pola hias. Salah satu cirinya adalah, tidak ada ruang kosong dalam gerabah yang mereka hasilkan. Gerabah-gerabah itu diukir sedemikian rupa sehingga ruangnya penuh.

Satu lagi cirinya, terdapat warna putih dalam pola hias mereka. Ini semua kita temukan di Loyang Muslimin dan Loyang Mendale,” ujar Ketut Wiradnyana.

Ia menduga kelompok ini pindah ke Loyang Muslim, akibat adanya letusan gunung berapi. “Dugaan saya, kelompok ini pergi ke Loyang Muslimin akibat adanya letusan gunung berapi. Tapi ketika letusan sudah reda dan aman, mereka kembali lagi ke Loyang  Mendale,” ujar Ketut.

Loyang Muslimin terletak di selatan Danau Laut Tawar tidak jauh dari Kampung Toweren. Sementara Loyang Mendale di utara, terletak di Kampung Mendale Kecamatan Kebayakan Aceh Tengah.

Dr Ketut menyebutkan, pihaknya melakukan penelitian arkeologi di  Gayo selama sepuluh tahun. Untuk sementara penelitian dinilai cukup. Penelitian dimulai pada 2010. Ketut Wiradnyana mengatakan,  sebetulnya masih banyak yang harus digali lagi.

“Tapi bagi kami sudah kami cukupkan sampai disini. Entah nanti, kelak ada peneliti-peneliti lain yang mau melanjutkan dengan teknologi yang lebih canggih. Tapi bagi bagi, saat ini sudah cukup,” ujarnya.

Ia menyarankan lokasi yang menjadi tempat penggalian di sepanjang Danau Laut Tawar agar dibebaskan dan dijadikan tanah adat Gayo.

“Bagaimana caranya, saya tidak tahu. Tapi dalam berbagai kesempatan saya sudah sampaikan agar lokasi-lokasi ini dibebaskan. Kemudian juga diharapkan ada juru pelihara. Saya sudah bertemu dengan pemuda-pemuda Mendale. Menyarankan mereka  mengelola kawasan Loyang Mendale sebagai satu kawasan wisata prasejarah. Seperti di Loyang Pukes. Nah di Loyang Mendale juga bisa dilakukan hal serupa. Bicaralah dengan pemerintah daerah.  Agar dikelola dengan baik,” sarannya.

Ia mengingatkan, apabila tidak segera dibebaskan, kawasan di sekeliling Danau Laut Tawar akan habis untuk keperluan lain.

“Kalau tidak segera diselamatkan, akan habis. Kalau bisa seluruh danau dibebaskan sebagai tanah adat. Kan sudah ada Majelis Adat Gayo,” ujarnya.(*)

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Taufik Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *