“Menelusuri Jejak Budaya Masa Lalu di Pulau Samosir, Sumatera Utara”

Hits: 1438

Danau Toba dan Pulau Samosir merupakan salah satu lokasi yang dicanangkan sebagai salah satu objek wisata unggulan di Sumatera Utara. Danau Toba juga sedang dalam proses penetapan Danau Toba sebagai Geopark Toba. Penetapan Geopark Toba tersebut tidak hanya dinilai dari unsur fisiknya saja, tetapi juga memerlukan unsur manusia dan kebudayaannya. Apalagi selama proses penyusunan borang Geopark Toba, penelitian-penelitian terkait unsur manusia dan budayanya masih belum cukup mendukung hal tersebut. Oleh sebab itu, penelitian budaya di Samosir menjadi hal yang dilakukan untuk dapat mendukung keberadaan Geopark Toba dengan melakukan upaya membantu menyiapkan Masterplan geopark Toba dari aspek kebudayaan dalam bentuk berbagai data ilmiah berkaitan dengan data hunian awal di Pulau Samosir. Hal itu terkait dengan tinggalan megalitik, sehingga keberadaan tinggalan arkeologis dan juga folklor masyarakat menjadi acuan utama penelusuran aktivitas masa lalu di Pulau Samosir. Menyikapi hal tersebut, maka sangat diperlukan penelitian intensif di Kabupaten Samosir ini, khususnya menyangkut aktivitas masa lalu yang berkaitan dengan unsur megalitik terutama di lokasi-lokasi yang disebut sebagai lokasi asal  orang Batak, yaitu Gunung Pusuk Buhit.

Cerita rakyat Batak Toba menyebutkan bahwa nenek moyang orang Batak, Siraja Batak, turun dari langit di Pusuk Buhit. Kemudian anak cucunya menyebar ke berbagai wilayah di sekitar Danau Toba. Hal tersebut masih dipercayai masyarakat Batak Toba hingga kini, bahkan dipercaya hunian awal Siraja Batak berada di puncak Gunung Pusuk Buhit. Sebagian dari cerita itu memiliki kebenaran, namun masih sangat diperlukan pengkajian yang lebih dalam agar rekonstruksi sejarah budaya masyarakat Batak Toba dapat dihimpun dengan lebih baik.

Salah satu hasil penelitian Balai Arkeologi Sumatera Utara dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Samosir yang dilakukan pada tahun 2014 di Sianjur Mula-mula menunjukkan adanya bukti adanya permukiman di lokasi tersebut. Hal itu ditunjukkan dengan adanya temuan pecahan-pecahan gerabah yang digunakan pada masa lalu. Hal itu memberikan gambaran tentang pemilihan lokasi hunian tersebut tidak di puncak Gunung Pusuk Buhit tetapi berada pada areal-areal yang relatif datar dan subur yang memungkinkan kelompok manusia masa lalu tinggal dan bermukim di suatu wilayah.

Dalam cerita rakyat lainnya disebutkan juga bahwa nenek moyang Batak Toba yaitu Si Raja Batak juga menghuni bagian lembah Gunung Pusuk Buhit, yaitu di wilayah Sianjur Mula-mula. Berkenaan dengan cerita tersebut kerap juga disebutkan wilayah Sianjur Mula-Mula merupakan hunian lokasi hunian awal Si Raja Batak. Hal itu diungkapkan Selain itu, cerita rakyat tempatan juga menyebutkan bahwa masyarakat etnis Batak Toba merupakan cikal bakal dari etnis-etnis yang ada di sekitar Danau Toba, seperti etnis Karo, Mandailing, Pakpak bahkan etnis yang wilayah budayanya cukup jauh seperti etnis Nias, Gayo dan Aceh juga merupakan bagian dari etnis Batak Toba.

Penelitian tahun 2018 ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana dan kapan aktivitas budaya di wilayah sekitar Gunung Pusuk Buhit, serta bagaimana bentuk hunian dan aktivitas masyarakat Batak Toba di sekitar Gunung Pusuk Buhit sekarang ini?.

Penelitian di Sianjur Mula-mula ini dilaksanakan sejak tanggal 9 April—1 Mei 2018. Penelitian ini dipusatkan di bekas permukiman Siraja Batak yang berada di Huta Urat, Desa Sianjur Mula-mula. Pada penelitian ini dilakukan oleh peneliti dan staf Balai Arkeologi Sumatera Utara bersama masyarakat di sekitar lokasi penelitian. Selain itu, penelitian ini juga melibatkan sebanyak 21 (dua puluh satu) orang mahasiswa Universitas Simalungun, Siantar; 15 (lima belas) orang mahasiswa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan.  Selain itu, penelitian ini juga melibatkan lima orang ahli bidang antropologi, bahasa, serta lingkungan dari Universitas Sumatera Utara, Balai Bahasa Sumatera Utara, dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Hasil penelitian di Sianjur Mula-mula ini telah memberikan bukti adanya permukiman di lokasi tersebut. Temuan ekskavasi yang dominan ditemukan adalah fragmen gerabah/tembikar. Selain itu, ditemukan juga pada manik-manik kaca dan fragmen logam. Pada ekskavasi ini juga ditemukan adanya umpak batu yang merupakan fondasi bangunan rumah panggung. Selain itu, ditemukan juga adanya bekas lubang tiang bangunan.

Bekas umpak yang ditemukan Sianjur Mula-Mula, Samosir

Pada kegiatan ini juga dilakukan acara Rumah Peradaban Samosir 2018 pada tanggal 28 April 2018 di Balai Desa Sianjur Mula-mula. Pada kegiatan tersebut melibatkan anak-anak sekolah dari 200 (dua ratus) siswa SMA 1 Sianjur Mula-mula, 90 (sembilan puluh) siswa SD 7 Sianjur Mula-mula, 90 (sembilan puluh) siswa SD 6 Sianjur Mula-mula, guru-guru pendamping dan masyarakat sekitar. Kegiatan ini ditujukan untuk lebih memasyarakatkan hasil penelitian arkeologi ke masyarakat dan memberikan muatan lokal untuk pengajaran di Samosir. Pada kegiatan ini juga dilakukan pemberian materi dari P4TK Medan, LPMP Sumatera Utara, Balai Bahasa Sumatera Utara, dan BP PAUD DIKMAS Sumatera Utara. Para peserta didik juga menerima buku pengayaan berjudul “Megalitik Samosir: Jejak Budaya dan Arkeologi Batak di Pulau Samosir” dan “Mengenal Budaya Batak”. Pada kesempatan ini juga dilakukan pemutaran film “Pustaha Laklak dan Pelestariannya”.

Suasana kunjungan situs pada Rumah Peradaban Samosir 2018

Selain Penelitian dan Rumah Peradaban Samosir 2018, kegiatan focus group discussion (FGD) terkait penelitian arkeologi di Samosir juga dilakukan pada tanggal 30 April 2018 di Hotel Saulina, Aek Rangat, Pangururan. Kegiatan ini diikuti oleh Dinas Pendidikan Samosir, Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Samosir, perwakilan guru-guru sejarah SD—SMA di Samosir, dan juga perangkat Desa Sianjur Mula-mula.

Focus Group Discussion di Hotel Saulina, Kabupaten Samosir

Dengan hasil penelitian yang telah dilakukan tahun 2018 ini diharapkan dapat dijadikan sebagai data tambahan tentang adanya bukti permukiman pada masa lalu di lokasi yang diduga sebagai permukiman awal Siraja Batak di Sianjur Mula-mula. Masih minimnya data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data di lapangan menuntut adanya penelitian lanjutan di masa depan. Dengan itu diharapkan dapat diperoleh gambaran yang diperoleh gambaran yang lebih komprehensif terkait jejak hunian awal di sekitar Gunung Pusuk Buhit yang disebut sebagai asal muasal orang Batak.

Lokasi temuan umpak-umpak bangunan dan bekas tiang bangunan rumah panggung hendaknya dapat diselamatkan sebagai salah satu situs cagar budaya yang mempunyai nilai penting sebagai bukti jejak pemukiman awal di Sianjur Mula-mula, khususnya, dan masyarakat Batak Toba, umumnya. Dengan itu diharapkan lokasi tersebut dapat menjadi salah satu bukti sejarah dan arkeologi bagi generasi penerus Batak mendatang sehingga  dapat menguatkan karakter generasi Batak di masa mendatang terutama terkait dengan jatidirinya sebagai orang Batak.

Tim Penelitian

30 April 2018

One thought on ““Menelusuri Jejak Budaya Masa Lalu di Pulau Samosir, Sumatera Utara”

  • 9 Agustus 2020 pada 13:31
    Permalink

    Saya juga selalu mencari dimana jati diri saya sebagai orang batak.Katanya sudah ada 1500 tahun yg lalu tp bukti arkeologi utk itu hilang atau ga ada ga tau

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *