Mencari Jejak Hunian Prasejarah pada Situs-Situs Terbuka di Sekitar Tepian Danau Singkarak, Sumatera Barat

Hits: 295

Tim penelitian Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Utara yang diketuai oleh Nenggih Susilowati, S.S.,M.I.Kom melakukan penelitian arkeologi dengan judul “Mencari Jejak Hunian Prasejarah pada Situs-Situs Terbuka di Sekitar Tepian Danau Singkarak, Sumatera Barat”. Kegiatan ini berada di wilayah administrasi Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok, Sumatera Barat selama tujuh belas hari, dimulai tanggal 25 Juni hingga 11 Juli 2021. Tim penelitian ini terdiri dari arkeolog (Taufiqurrahman Setiawan, Dyah Hidayati, Teguh Hidayat, Dodi Chandra), geograf (Gilang Aditya), geology (Lismawaty), dan teknisi (Hendra Fazri, Ali Ma’ruf, Suhadi, Umi Nawaitu Syahra). Anggota tim tersebut berasal dari Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Utara, Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, dan Institut Teknologi Medan.

Kegiatan survei dan ekskavasi dilakukan di kompeks Menhir Simawang, Nagari Simawang, Kecataman Rambatan, Kabupaten Tanah Datar yang berada di puncak bukit yang dikenal masyarakat sebagai “Panorama,” mengingat keindahan pemandangan dikejauhan berupa hijaunya ladang masyarakat, birunya Danau Singkarak, dan deretan Bukit Barisan yang memanjang di bagian selatan hingga barat. Dikejauhan juga terlihat gunung-gunung yang berdiri seolah membentengi bukit-bukit kecil lainnya, seperti Gunung Merapi (baratlaut), Gunung Sago (timurlaut), dan Gunung Talang (selatan).

Secara umum diketahui menhir-menhir yang ada berdiri di bagian timurlaut dari jirat-jirat batu yang sebagian masih terlihat jelas. Menhir-menhir itu ada yang menggunakan batu alam dan ada yang artifisial. Temuan permukaan dan ekskavasi cukup beragam yaitu fragmen gerabah, kaca, keramik, selongsong peluru, dan batuan obsidian. Di kotak-kotak ekskavasi diketahui adanya fitur –fitur yang menggambarkan adanya jejak galian di masa lalu yang kemungkinan sebagai liang lahat berorientasi timurlaut-baratdaya. Selain itu terdapat fitur lain yang masih belum jelas pemanfaatannya di masa lalu. Keberadaaan menhir (batu tegak) dan fitur-fitur tersebut menggambarkan fungsinya sebagai penanda pada makam Islam, namun mendapat pengaruh budaya Pra Islam. Pemanfaatan kontur bukit dengan membuat teras-teras dengan talud-talud pembatas yang sebagian masih tersisa menegaskan pengaruh budaya Pra Islam yang mengingatkan pada bentuk bangunan berundak (punden berundak). Setidaknya diketahui ada 4 hingga 5 (lima) teras di dalam batas pagar besi, sedangkan lainnya berada di luar pagar besi pada kebun-kebun masyarakat sekitar. Kegiatan geolog dan geograf melengkapi dengan mengungkap kondisi lingkungan alam sekitar Menhir Simawang, termasuk juga sumber air yang mendukung permukiman dahulu hingga kini di Simawang.

Kegiatan lainnya adalah mencari benang merah antara masa lalu dengan masa kini berkaitan dengan budaya maritim di sekitar tepian Danau Singkarak, berkaitan dengan permukiman di bagian tepian danau hingga perbukitannya. Kegiatan penelitian di Kabupaten Solok sebelumnya pernah dilakukan di Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjung Sirih, yaitu di Gua Beringin dan Gua Carano. Kali ini untuk melengkapi hasil penelitian itu dilakukan survei pada lokasi yang diduga situs terutama pada bagian perbukitan, seperti Jorong Aia Angek, Nagari Saning Bakar, Kecamatan X Koto Singkarak, dan Nagari Muara Pingai, Kecamatan Junjung Sirih. Pada kesempatan kali ini juga dilakukan pengamatan pada Ngalau Batu Gantuang, dan Ngalau Godang di Bukit Merah Putih di Nagari Sulit Air di Kecamatan X Koto Singkarak. Cuaca sangat panas ketika tim melakukan survei dan rata-rata dalam mencapai lokasi tersebut dilakukan dengan jalan kaki menyusuri jalan setapak yang membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dengan tingkat kemiringan lahan sampai 60.º Beberapa temuan hasil survei meliputi fragmen gerabah, batu obsidian, batu andesit (diduga alat ?), kulit kemiri, dan serakan cangkang moluska.

Selanjutnya tim juga menjaring data etnoarkeologi berkaitan dengan pembuatan gerabah di Jorong Galo Gandang, Nagari III Koto, Kecamatan Rambatan, Tanah Datar, pembuatan perahu papan di Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjung Sirih, dan pembuatan bata di Nagari Aripan, Kecamatan X Koto Singkarak, Solok. Kegiatan ini juga tidak mengabaikan keberadaan tinggalan lainnya seperti bangunan rumah gadang, makam dengan pengaruh kolonial dan aktivitas lain yang melengkapi budaya di sekitar tepian Danau Singkarak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *