Ketut Wiradnyana: Tembikar Gayo Prasejarah Lebih Tua dari Temuan Tembikar di India

Hits: 19

Repost

Laporan Fikar W Eda I Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara yang memimpin tim penelitian arkeologi di Aceh Tengah, Dr Ketut Wiradnyana, MSi, menyatakan tembikar yang ditemukan di Gayo berusia 4000 tahun, jauh lebih tua dari tembikar yang ditemukan di India.

Hal itu disampaikan Ketut Wiradnyana dalam “BincangKopi #3 Musara Gayo” secara virtual, Sabtu (13/3/2021) malam melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini digagas Divisi Pendidikan Kebudayaan Musara Gayo, dipandu jurnalis Serambi Indonesia yang juga penyair, Fikar W.Eda.

Hadir sejumlah cendikiawan dan ilmuan, Prof M.Dien Madjid, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga sejarawan nasional, Dr Yusra Habib Abdul Gani, profesional dan pengacara Alwien Desry, SH.MH dan lain-lain.

Tembikar yang berasal dari zaman Gayo pra sejarah itu ditemukan pada penggalian di Loyang Ujung Karang.

“Tembikarnya sangat khas, ada hitam, juga merah, juga ada oranye. Tembikar warna ini banyak ditemukan di India. Tapi temuan di Gayo lebih tua usianya dari temuan di India,” ujar Ketut Wiradnyana.

Ketut memimpin tim penggalian arkeologi di sejumlah loyang atau gua di seputaran Danau Laut Tawar, sejak 2009. Loyang yang disasar itu antara lain Loyang Mendale, Loyang Ujung Karang, Loyang Pukes, Loyang Muslim dan lain-lain.

Terhadap bukti temuan tembikar itu, Ketut menduga bahwa orang Gayolah yang membawa budaya tembikar itu ke India, bukan sebaliknya seperti anggapan awam selama ini.

“Ini memang dugaan. Tapi bukti yang kita miliki, bahwa usia tembikar Gayo ini lebih tua dari India,” ujar Ketut lagi.

Menurutnya, dugaan tembikar India berasal dari Gayo, itu logis, sebab pada awal-awal masehi, pelaut-pelaut Sumatera yang banyak melakukan perdagangan ke banyak tempat di dunia termasuk India.

“Jangan-jangan orang Mendale ini yang membawa tembikar ke India,” sambung Ketut.

Menurut Ketut, temuan tembikar dari era Gayo pra sejarah itu memiliki teknologi luar biasa.

“Mereka mengenal cara membuat dan bahan baku tembikar, campuran bahan-bahan yang baik dalam membuat tembikar. Mereka juga bisa membuatnya dari rotan yang umurnya 4400. Teknologinya sudah maju,” ujar Ketut.

Disebutkan ada satu produk tembikar persis logam perunggu. Tidak pecah kalau dijatuhkan ke lantai. Bunyinya seperti logam.

“Saya bahwa bukti tembikar ini ke peneliti tembikar masa sejarah di Perancis. Mereka kaget, tembikar seperti ini sudah dikenal di Gayo pada zaman prasejarah, sebab teknologi ini sudah sangat maju pada periode prasejarah,” ujarnya.

Ketut menyampaikan, dulu tembikar garis merah hanya ditemukan di Indonesia bagian timur.

Tapi setelah dilakukan penelitian dan penggalian di Gayo, ternyata ditemukan tembikar sejenis yang melimpah, ada tembikar hitam, abu-abu, merah dengan pola hias yang unik.

“Bayangkan itu. Kaya sekali dengan teknologi dan inovasi.”

Ketut mempersilahkan bertanya kepada para arkeolog tentang tembikar prasejarah di Indonesia, pasti akan dijawab tembikar dengan polesan warna merah.

“Nah tembikar jenis itu melimpah di Gayo,” ujarnya.

Selain tembikar, tim peneliti arkeologi yang dipimpin Ketut Wiradnyana juga menemukan kapak lonjong, kulit kerang, ekor ikan pari dan banyak lagi temuan-temuan benda lain yang berasal dari zaman Gayo pra sejarah.

Termasuk sebuah anting-anting logam dengan hiasan kerawang ditemukan di Loyang Pukes.

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Ansari Hasyim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *