Kepurbakalaan PADANGLAWAS

Hits: 18

PADANGLAWAS merupakan salah satu wilayah padat dengan peninggalan benda budaya masyarakat masa Hindu-Buddha Indonesia. Puluhan reruntuhan candi ditemukan tersebar sepanjang aliran Sungai Barumun, Sungai Sirunambe dan Batang Pane. Bangunan berstruktur utama bata ini merupakan karya arsitektural yang begitu megah pada masanya itu. Sebut saja contohnya yaitu Biara Bahal I, Biara Bahal II, Biara Bahal III, Biara Pulo, Biara Si Pamutung, Biara Tandihat, dan Biara Si Sangkilon. Wilayah ini menunjukkan bukti eksistensi suatu kebudayaan yang cukup tua dan khas di kawasan tersebut. Keberadaannya merupakan bukti konkret adanya sebuah interaksi antara budaya lokal dengan budaya asing. Hal ini tidak lain karena agama Hindu maupun Buddha merupakan agama yang lahir dan berkembang di India. Baik secara langsung maupun tidak, unsur kebudayaan India telah diserap oleh masyarakat lokal. Wilayah Padang Lawas diduga dulunya merupakan bagian dari sebuah sistem pemerintahan. Peran penguasa dapat dilihat dari upaya pengerahan masyarakatnya dalam pembangunan bangunan suci yang sedemikian megahnya. Untuk membangun bangunan suci ini, satu hal yang sangat penting adalah kebutuhan akan tenaga kerja. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa kepercayaan masyarakat pendukung budaya Padang Lawas akan penguasa (raja) dapat dikatakan sangat tinggi.
Informasi terkait kepurbakalaan di wilayah Padanglawas ini telah dicatat oleh Franz Willem Junghun, yang pada waktu itu ditugaskan oleh pemerintahan Hinda Belanda pada tahun 1846. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa peniliti asing, hingga pada tahun 1973-1975 penelitian dilakukan oleh Tim Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional, yang bekerjasama dengan The University of Pensylvania Museum. Dalam Kitab Negarakrtagama pupuh XIII dituliskan oleh Mpu Prapanca dituliskan adanya penyebutan beberapa negeri dari pulau lain yaitu Jambi, dan Palembang, Karitang, Teba yang lainnya termasuk Dharmmasraya, Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siyak, Rokan, Kampar, dan Pane, Kampe, Haru, dan Mandahiling, Tumihang, Parllak dan Barat.
Kepurbakalaan masa pengaruh Hindu—Buddha yang terdapat di Kabupaten Padang Lawas dan Padang Lawas Utara sebagai salah satu khasanah kebudayaan Indonesia selama ini belum banyak yang mengetahuinya. Kemungkinan karena isu-isu yang berkaitan dengan keberadaannya tersembunyi di balik isu-isu penting lainnya. Padahal arti penting maupun potensinya sebagai warisan nenek moyang bangsa Indonesia tidak kalah dibandingkan peninggalan dari masa Hindu-Buddha lain di Indonesia.
Ketika isu tentang keberadaan tinggalan budaya tidak diperhatikan, maka dengan sendirinya warisan nenek moyang tersebut akan terbengkalai. Bahkan, tidak jarang beberapa kolektor luar negeri, ataupun oknum masyarakat dengan sengaja menjarah dan menjadikan benda-benda yang memuat sejarah dan identitas tersebut sebagai barang komoditas.
Biara Bahal III (Dok. Balai Arkeologi Sumatera Utara, 2011)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *