Kelompok Manusia Gayo Prasejarah di Loyang Peteri Pukes Berbeda dengan Loyang Mendale

Hits: 9

Repost

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Kelompok manusia prasejarah yang mendiami  Loyang Peteri Pukes diduga berbeda dengan kelompok manusia prasejarah lainnya yang mendiami Loyang Mendale.

Ini disampaikan Ketua Tim Peneliti Arkeologi Ceruk Mendale yang juga Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara, Dr Ketut Wiradnyana, Msi menjawab Serambinews,com.

“Kelompok manusia prasejarah yang mendiami Loyang Peteri Pukes berbeda dengan kelompok manusia prasejarah di Loyang Mendale.  Kelompok yang berada di Loyang Pukes kemungkinan berasal dari ras mongoloid tua. Sedangkan yang di Mendale merupakan kelompok campuran,” kata Ketut Wiradnyana.

Ia menginformasikan, bahwa Oxford  tengah melakukan analisa DNA (deoxyribonucleic acid) atau asam deoksiribonukleat yang ditemukan di penggalian Loyang Puteri Pukes, Tepi Danau Laut Tawar Aceh Tengah. “Analisis DNA-nya dilakukan di Oxford  belum dipublikasikan,” ujar Ketut Wiradnyana.

Sementara sebelumnya, analisi DNA yang berasal dari Loyang Mendale dilakukan di Universitas Airlangga dan memiliki kesesuaian erat dengan DNA orang Gayo sekarang ini.

Loyang Peteri Pukes dikenal juga menjadi salah satu objek wisata di Aceh tengah. Loyang ini berada persis di sisi Danau Laut Tawar dan berada dalam lintasan Jalan Takengon-Bintang-Belangkejeren.

Terdapat sebuah legenda di Loyang Pukes, yakni legenda pengantin menjadi batu. Kisah ini  bermula ketika iring-iringan pengantin baru Peteri Pukes dan suaminya tiba-tiba berubah wujud menjadi batu, karena Pukes dianggap melanggar amanah, agar tidak lagi menoleh ke belakang ke kampung halamannya yang berada di ujung danau, tatkala sudah meninggalkan rumah. Peteri Pukes telah “melanggar manat” atau “amanah” sakral ini.

Konon Pukes tak kuat menahan kesedihannya karena harus pergi meninggalkan orang tua dan kerabat menuju kehidupan baru di kampung suami. Pukes tak kuat, lalu ia menoleh ke belakang untuk terakhir kali.

Pada saat inilah melalui satu peristiwa alam, hujan turun deras dan guntur menggelegar, Pukes bersama rombongan pengantin itu berubah menjadi batu.

Dalam Loyang Pukes memang ditemukan beberapa batu yang memiliki bentuk sekilas mirip manusia. Banyak pengunjung datang ke sana menyaksikan batu berbentuk manusia itu.

Dr Ketut menyampaikan setidaknya ada tiga atau empat kelompok manusia prasejarah yang datang secara bergelombang ke Gayo. Mereka datang membawa budaya masing-masing.

Disebutkan pada 12000 tahun lalu Pulau Sumatera sudah dihuni oleh manusia dengan postur tubuh tegap dan memilih tinggal di pinggir pantai.

Lama kelamaan, karena kekurangan bahan makanan kelompok manusia ini mencari hunian baru dengan panduan sungai, sampai ke daerah pedalaman.

Hingga suatu ketika kelompok ini mencapai gua atau Loyang Mendale yang berada di tepi Danau Laut Tawar, Aceh Tengah sekarang.

Diduga jalur yang mereka tempuh melalui Sungai Tamiang, Lokop Serbejadi, terus sampai ke Samar Kilang dan Danau Laut Tawar.

Mereka memilih Loyang Mendale sebagai tempat hunian karena guanya luas dan terlindung, serta dekat dengan sumber air dan makanan.

Kelompok ini membuat beberapa peralatan yang dapat mendukung kehidupan mereka, memanfaatkan batu, kayu dan sisa tulang binatang  maupun cangkang kerang. Mereka juga sudah mengenal api untuk mengolah makanan.

Mereka membuat kapak dari batu kali, dan ada kalanya menambahkan tangkai dari kayu untuk memudahkan memegang dan menggunakannya.

Mereka juga membuat jarum dari tulang binatang. Mereka  membuat peralatan berburu seperti tombak maupun mata panah dari batu.

Lalu pada kisaran 5000 tahun silam datang kelompok kedua dengan postur tubuh berbeda dari kelompok pertama.  Membawa budaya berbeda.

Kelompok kedua ini  adalah penutur bahasa Austronesia. Mereka menggunakan peralatan baru seperti gerabah atau tembikar dan anyaman.

Menurut Dr Ketut, kelompok pertama dan kelompok kedua hidup saling berbaur dan dengan damai di Loyang Mendale.

“Kelompok manusia Austronesia ini telah memiliki kemahiran membuat pola hias dengan cat warna merah pada tembikar,” lanjut Dr Ketut.

Tembikar-tembikar itu ada yang dihias dengan cara digores. Tembikar merupakan salah satu wadah  tempat air, tempat makanan dan keperluan religi. Kelompok ini sudah lebih mahir membuat peralatan berburu.

Kapak yang mereka buat  telah digosok lebih halus dan bertangkai. Mereka membuat berbagai perhiasan dari kulit kerang berupa manik-manik dan gigi hewan. Manik-manik itu dibuat dengan cara melubangi kulit kerang atau tulang binatang dan dirangkai menjadi kalung  dan gelang.

Ketika ada yang meninggal dunia, mereka perlakukan seperti manusia saat hidup. Kuburnya ada yang berbentuk oval dan melipatkan kaki mayat saat dikubur. Peneliti Balai Arkeologi Sumut menemukan beberapa model cara penguburan.

Selanjutnya, tambah Dr Ketut, pada kisaran 3000 tahun lalu terjadi bencana letusan gunung berapi. Penghuni Loyang Mendale mencari tempat hunian baru di seberang Danau Laut Tawar. Saat letusan sudah reda mereka kembali lagi ke tempat hunian awal di Mendale

Berikutnya datang kelompok manusia ketiga pada 2000 tahun silam. Mereka juga tinggal di beberapa ceruk atau gua di tepi Danau Laut Tawar.

Sebagaimana kelompok pertama dan kedua, manusia kelompok ketiga ini juga memiliki cara hidup yang sama. Berburu, menangkap ikan dan menanam umbi-umbian. Hanya saja kelompok ketiga ini sudah lebih  maju dalam membuat tembikar dan anyaman-anyaman.

Terutama dalam menghias tembikar dengan cara poles dan gores. Berbagai bentuk wadah tembikar yang dihasilkan memiliki ciri  pola hias tersendiri dengan cara menghiasi seluruh bagian tembikar.

Dr Ketut menyebutkan baik kelompok pertama, kedua dan ketiga,  sama-sama hidup berdampingan. Kebudayaannya saling berbaur.

Terkait dengan kelompok yang mendiami Loyang Peteri Pukes, Dr ketut menyiratkan  sama sekali berbeda dengan yang di Loyang Mendale. “Mereka sama-sama ras mongoloid, tapi yang di Pukes mongoloid tua,” ujar Dr. Ketut.(*)

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Taufik Hidayat



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *