Identifikasi Patung Kuna di Dusun III Batu Sinanggar, Desa Meranti Omas, Kecamatan Na IX-X, Kabupaten Labuhan Batu Utara

Hits: 12

Patung Pangulubalang Batu Sinanggar

Pada bulan September 2021 lalu, Desa Meranti Omas dihebohkan dengan adanya laporan warga, Darpin Ritonga, kepada Kepala Desa Meranti Omas, Baharuddin Sagala, perihal temuan patung yang ditemukan pada saat pembersihan lahan miliknya. Laporan penemuan ini kemudian muncul dalam beberapa media sosial, media surat kabar online, dan media televisi baik lokal maupun nasional. Laporan warga tersebut kemudian dilaporkan oleh Kepala Desa kepada dinas terkait dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Labuhan Batu Utara di Aek Kanopan. Terkait laporan tersebut, pihak Dinas kemudian mencari informasi lanjutan dengan melakukan koordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara, Masyarakat Sejarawan Indonesia, Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh (BPCB Aceh), dan juga Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Utara (Balarsumut). Terkait dengan pelaporan tersebut Kepala Balarsumut kemudian memberikan tanggapan dan menugaskan dua orang tenaga peneliti dan satu orang tenaga teknis bidang arkeologi untuk mengidentifikasi temuan tersebut. Tiga orang tersebut yaitu Taufiqurrahman Setiawan, Stanov Purnawibowo, dan Mochammad Fauzi Hendrawan dan dilaksanakan pada tanggal 9-10 November 2021.

Kegiatan ini diawali dengan koordinasi awal dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Labuhan Batu Utara melalui Kepala Bidang Kebudayaan beserta Kepala Seksi Cagar Budaya dan Kepala Seksi Sejarah. Pada koordinasi awal tersebut diperoleh gambaran bahwa verifikasi awal telah dilakukan oleh BPCB Aceh dan lebih menekankan pada aspek perlindungan temuan. Koordinasi kemudian dilanjutkan ke pihak Desa Meranti Omas terkait tinjauan lapangan lokasi penemuan dan objeknya.

Hasil peninjauan lapangan menunjukkan bahwa temuan patung Pangulubalang tersebut ditemukan pada posisi rebah pada satu lahan dengan fungsi sekarang sebagai lahan menanam padi ladang dan memiliki kemiringan lereng terjal. Berdasarkanpenuturan Darpin Ritonga, patung tersebut ditemukan terselip di akar pohon yang pada saat lahan dibersihkan. Darpin Ritonga juga menambahkan bahwa lokasi ini dahulunya ditanam karet/rambung dan arca tersebut tidak terlihat/muncul sehingga baru ditemukan pada saat pembersihan lahan.

Hasil pengamatan lapangan terhadap patung kuna tersebut menunjukkan bahwa objek ini merupakan objek diduga cagar budaya. Objek ini merupakan patung pangulubalang yang sering ditemukan permukiman lama pada masyarakat Batak. Fungsinya terkait dengan penjaga permukiman dari bahaya yang datang dari luar. Patung ini diperkirakan berumur 200-300 tahun yang lalu. Secara khusus, objek ini sepertinya telah mengalami perpindahan dari lokasi awalnya, karena lokasi temuan berada di bagian lereng dengan kemiringan terjal yang tidak memungkinkan dibangun permukiman pada lahan tersebut. Kemungkinan lokasi awal dari patung ini berada di bagian atas lereng Batu Sinanggar relatif datar sehingga memungkinkan menjadi tempat permukiman. Asumsi ini masih memerlukan pendalaman lebih lanjut dengan survei dan ekskavasi pada lokasi-lokasi yang memungkin digunakan sebagai permukiman.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *