Hasil Diskusi Forditas, Mengupayakan Peluncuran Muatan Budaya Lokal Bagi Masyarakat

Hits: 46

Forum diskusi terbatas (Forditas) menggelar diskusi yang terakhir di tahun 2019. Forum ini sudah sangat familiar di kalangan pecinta budaya di Sumatera Utara khususnya Kota Medan yang setahun belakangan ini rajin menggelar diskusi mengenai dinasti dan sosok Sisingamangaraja. Diskusi ini digelar di Ruang Pertemuan Balai Arkeologi Sumatra Utara ( Balar Sumut) yang berada di Jalan Seroja Raya Gang Arkeologi No. 1, Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan, Medan pada Jum’at, 27 Desember 2019 pukul 16.00 WIB s.d. selesai.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si, Akademisi Akpar Medan Rita Margareta Setianingsih, Thompson Hs selaku pemantik diskusi, Lucas Partanda Koestoro, DEA selaku Mantan Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara, dan beberapa staf Balar Sumut serta para tamu undangan tampak hadir dalam kegiatan berlangsung.

Adapun berita yang menarik yang kami peroleh dalam diskusi yang terakhir ini yakni kegiatan diskusi yang berjalan selama setahun belakangan ini yang melibatkan berbagai unsur budaya di Sumatera Utara khususnya Kota Medan, diskusi mengenai dinasti dan sosok Sisingamangaraja akan diupayakan menjadi pemuatan budaya lokal dalam buku maupun jurnal. Seperti pandangan dari Miduk Hutabarat dalam usulannya menyampaikan hasil diskusi ini akan masuk ke dalam jurnal provinsi, agar forditas memiliki landasan keilmiahan. Sedikit mengingatkan bahwa ada data sejarah yang membahas mengenai lokasi istana sisingamangaraja dan masyarakatnya yang dibumi hanguskan oleh Belanda. Mungkin ini sedikit menyinggung masalah politik, tapi diskusi ini harusnya bermuara pada tuntutan wakaf tanah kepada pemerintah dan ganti rugi kepada pemerintah Belanda, untuk mengembangkan destinasi pariwisata kampung adat Sisingamangaraja, agar pariwisata di Danau Toba juga berbasis budaya.

Pada lain kesempatan Lucas Partanda Koestoro, DEA memberikan pandangannya menyampaikan dengan lamanya kegiatan forditas berlangsung yakni  selama 3 jam kali 12 bulan sudah semestinya dijadikan sebuah tulisan entah apapun itu wujudnya. Mengenai tokoh ini meskipun tidak semua Suku Batak menganggapnya pahlawan, tapi karena keputusan politis pemerintah pada saat itu.

Bak gayung bersambut, hasil dari diskusi mengenai dinasti dan sosok Sisingamangaraja yang direncanakan akan diupayakan menjadi pemuatan budaya lokal, Kabalar Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si berusaha menyisihkan anggaran agar nantinya hasil diskusi ini menghasilkan suatu buku yang isinya berupa pengetahuan lokal masyarakat mengenai dinasti Sisingamangaraja.

Tentunya hal ini menjadi kabar baik bagi seluruh pecinta budaya terkait rencana akan diluncurkannya muatan pengetahuan lokal masyarakat mengenai dinasti Sisingamangaraja. Mudah-mudahan muatan lokal ini nantinya akan mampu menjawab berbagai macam versi cerita Sisingamangaraja yang berkembang saat ini dan dapat menambah pengetahuan khasanah literasi ditengah masyarakat.

Berikut ketika acara diskusi forditas berlangsung di Balai Arkeologi Sumatera Utara yang kami dokumentasikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *