Forditas Gelar Diskusi Warisan-Warisan Historis Sisingamangaraja

Hits: 44

Selasa, 22 Oktober 2019, Forditas kembali menggelar diskusi terkait Sisingamangaraja di Balai Arkeologi Sumatera Utara. diskusi yang diselenggarakan merupakan diskusi yang ke 10 sepanjang Tahun 2019 di Balar Sumut dengan tema warisan-warisan historis Sisingamangaraja.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kabalar Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si dan Akademisi Akpar Medan Ibu Rita Margareta, selain itu beberapa staf Balar Sumut serta para tamu undangan tampak hadir dalam kegiatan ini dan alat musik tradisional ikut memeriahkan kegiatan berlangsung.

Forditas menyadari pentingnya pemahaman warisan historis bagi masyarakat, khususnya masyarakat di Sumatera Utara. Diharapkan bisa lebih mengerti tinggalan masa lalunya. Forditas bersama Balar Sumut dan pemerhati budaya serta pihak lain yang mendukung menggelar diskusi ini dalam rangka mengupayakan agar Warisan Historis Sisingamangaraja dapat diketahui oleh publik serta upaya dalam melestarikan dan merawat tinggalan masalalu ini.

Adapun beberapa point yang kami peroleh dari diskusi diantaranya :

Jejak perkampungan dan model arsitektur Lumbanraja

Lumban Mariste merupakan perkampungan Sisingamangaraja I – X. Bekas perkampungan itu ditumbuhi oleh Hariara Tungkot setelah habis dibakar oleh tentara PADR (tahun 1825 ( menurut Parakitri Simbolon Tahun 1819). Kemudian lumbanraja dibangun oleh Sisingamangaraja XI (Ompu Sohahuaon) dengan anaknya Raja Parlopuk (Abang Patuan Bosar). Tahun 1878 dibakar oleh Belanda dan konon kedua kalinya dibakar pada tahun 1883.

Jejak di Tarutung dan simbol di Siantar, di Parlilitan serta di Tele dan sekitar Dairi merupakan jejak-jejak yang di tinggalkan oleh Sisingamangaraja. Selain itu keris dan senjata api yang digunakan pada masa itu dalam upaya melawan penjajah serta naskah Bakkara merupakan peninggalannya.

Warisan nilai-nilai kepemimpinan, adapun nilai-nilai kepemimpinan yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya :

  1. Paninggala Sibola Tali, Parhatian Sibola Tindang (tidak melakukan kekerasan dan menjaga keadilan)
  2. Siharhari Nadapot Bubu, Sirungrangi Nadapot Sambal (pembebas manusia)
  3. Pitu Hali Malim Pitu Hali Solam (menjaga kesucian dan ketaatan)
  4. Sihorus Nalobi Sigoki Nalonga (mengajarkan hidup tidak berlebihan)
  5. Tu Ginjang So Ra Mungkit Tu Toru So Ra Meret (teguh dalam pendirian)

Itulah beberapa warisan historis yang berhasil kami tulis dalam diskusi yang digelar oleh Forditas yang bertempat di Balai Arkeologi Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *