Benarkah Sisingamangaraja Bermarga Sinambela?

Hits: 7810

Repost

Medanbisnisdaily.com-Medan. Judul di atas merupakan topik dari diskusi yang digelar Forum Diskusi Terbatas (Forditas) di Balai Arkeologi (Balar) Sumatra Utara, di Jalan Seroja Raya, Gang Arkeologi, No 1, Tanjung Selamat, Medan Tuntungan, Kota Medan, Selasa sore (26/2/2019).

Thompson Hs, selaku pemantik diskusi, menyebut Sinambela adalah marga yang diadopsi kepada Raja Manghuntal (Sisingamangaraja I), kemungkinan oleh raja-raja adat, raja bius dan parbaringin. Kemudian beristana di kampung Sinambela, Lumbanraja, Desa Bakkara, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humabhas). Ini menunjukkan dia bukanlah marga sipukka huta (pendiri/pembuka kampung). Karena kalau dia sipukka huta, maka lazimnya namanya Hutaraja (kampung raja)

“Karena kharismanya, sejak awal ia dicitrakan sebagai simbol penerus Si Raja Batak yang antifeodal sebagaimana berkembang di masa itu,” beber Thompson.

Versi lain mengacu kepada buku “Sejarah Raja-raja Barus” tulisan Jane Drakad. Di buku itu, disebut ayah Raja Manghuntal (Sisingamangaraja I) adalah seorang penyiar agama/pedagang dari Barus, Ibrahimsyah. Ia pergi berkelana ke hulu Barus dan tiba di Bakkara melalui Humbhas. Di sana ia bertemu dengan seorang raja. Singkatnya, Ibrahimsyah diberi marga agar ia bisa mempersunting putri raja itu, Boru Pasaribu. Menurut versi itu, Boru Pasaribu itulah ibu Raja Manghuntal.

“Tapi ini kurang logis. Biasanya marga yang diberikan kepada seseorang adalah marga pemberi marga. Itu tidak mungkin, karena kalau begitu berarti perkawinan itu incest,” ujarnya.

Sementara sesuai foklore yang diyakini secara umum orang Batak, bahwa ayah Raja Manghuntal adalah Bona Ni Onan dan ibunya Boru Pasaribu.

Diskusi semakin menarik ketika disuguhkan cerita tentang Raja Situngo Naiborngin/Br Hutapea dari Balige, Toba Samosir, yang mirip kisahnya dengan cerita Bona Ni Onan/Br.Pasaribu di Bakkara, Humbahas.

Raja Situngo Naiborngin adalah anak Raja Panjaitan, 7 generasi dari Si Raja Batak. Anak Raja Situngo Naiborngin bernama Raja Sijorat Paraliman. Kisah kelahiran Raja Sijorat Paraliman sama dengan kisah kelahiran Raja Manghuntal. Kesamaannya antara lain, Boru Pasaribu dan Boru Hutapea boleh dibilang sama-sama dibuang karena tidak bisa memberikan anak.

Keduanya sama-sama pergi ke gua untuk berdoa. Boru Pasaribu berdoa ke tombak (gua) Sulu-sulu di Bakkara, sementara Boru Hutapea ke Gua Liang Sipege di Desa Simarmar, Kecamatan Balige, Tobasa. Proses kehamilannya juga serupa. Usia kandungan keduanya melampaui batas normal, yakni sampai dua tahun.

Kesamaan lain, bahwa Raja Sijorat Paraliman memiliki kesaktian yang jenis dan kadarnya setara dengan kesaktian yang dimiliki Raja Manghuntal. Dari sejumlah kesamaan itu, muncul spekulasi yang menyebutkan bahwa Raja Manghuntal itu bisa jadi adalah Raja Sijorat Paraliman yang tak lain generasi ketiga Raja Panjaitan.

“Apakah Sisingamangaraja I dan seterusnya bermarga Panjaitan? Yang pasti sampai sekarang Sinambela dan Panjaitan adalah padan (terikat sumpah-red) tidak boleh menikah,” kata Thompson.

Salah seorang peserta diskusi Abdul Panjaitan, keturunan raja Sijorat asal Tebing Tinggi, mengatakan, hipotesa Thompson beririsan dengan cerita yang pernah ia dengar secara oral turun-temurun. Menurut cerita, Raja Situngo Naiborngin pernah ke Bakkara dan menolong Boru Pasaribu yang “diusir” karena tidak bisa memberikan keturunan (anak).

“Memang hingga kini ada tradisi kekerabatan yang kuat antara Sinambela dengan keturunan Raja Sijorat (Panjaitan),” kata Abdul. Reporter JONES GULTOM Editor SASLI PRANOTO SIMARMATA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *