Barus Dalam Dunia Batak Dan Melayu

Hits: 1395

Jum’at, 28 Februari 2020, Untuk pertama kalinya Forditas menggelar diskusi di tahun 2020 bertempat di ruang pertemuan Balai Arkeologi Sumatera Utara. Diskusi yang diselenggarakan berbeda dengan diskusi yang sebelumnya, dimana diskusi yang lalu mengangkat cerita tokoh Sisingamangaraja, namun kali ini forditas mengangkat cerita tentang Barus Dalam Dunia Batak dan Melayu.

Kegiatan ini dihadiri oleh Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si selaku Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara, Bapak Maryanto selaku Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara, Thompson Hutasoit selaku narasumber forditas, selain itu beberapa staf Balar Sumut serta para tamu undangan tampak hadir dalam kegiatan ini.

Penelitian arkeologi di Barus sendiri dimulai sejak 1985 bekerja sama dengan EFEO dan sudah diterbitkan 5 buku terkait penelitian di Barus. Barus adalah pelabuhan internasional pada masa lalu dan menjadi jalan masuk bagi agama-agama ke Indonesia. Hamzah Fansuri merupakan penyair yang sering dikaitkan dengan Barus. Bahkan nama Pancur dianggap berasal dari nama Fansuri.

Dalam kesempatan ini Ketut Wiradnyana menyampaikan Forditas ini adalah diskusi terbuka yang difasilitasi oleh Balar Sumut, namun semuanya dapat memberikan gagasan dan pemicu dalam rangka pengembangan Barus. Barus itu sudah dikenal sejak abad 2 Masehi. Ptolomeus melakukan penelitian mengenai asal komoditas-komoditas di dunia. Dan Kapur Barus dikenal sebagai penghasil Barus. Pada abad XVI Barus juga disebutkan di berbagai sumber tertulis asing, seperti Suma Oriental Tome Pires. Disebutkan bahwa komoditas-komoditas perdagangan dibawa ke pedalaman. Peneliti Perancis, Daniel Perret mengungkapkan bahwa tembikar-tembikar pedalaman, ditemukan di Barus. Hal ini memunculkan asumsi bahwa daerah-daerah pedalaman Sumatera turut pula melakukan perdagangan. Menurut cerita-cerita local, pada suatu masa, orang-orang asing yang datang dari Baruslah yang mengajari masyarakat setempat bertani, dan lain-lain.

Sementara itu Antara Maryanto menyampaikan Melayu Barus dan Melayu Selat Melaka, ada mata rantai yang terputus. Ini masih menjadi PR besar kita bagaimana menyambungkan Selat Malaka dan pesisir barat Sumatra. Sangat jarang yang mengatakan bahwa Bahasa Indonesia sebenarnya datang dari Melayu di pesisir barat Sumatra. Akan menjadi kendala ketika pemerintah berupaya untuk mengangkat Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional, ternyata bahwa pewaris kerajaan Melayu justru adalah Malaysia. Tahun 2002, Balai Bahasa Sumatera Utara sudah melakukan kajian terhadap karya sastra Hamzah Fansuri & Gurindam 12. Ternyata fitur-fitur sastra Indonesia lebih dekat dengan karya sastra Hamzah Fansuri. Masih ditelusuri juga sejak kapan bahasa Indonesia/ melayu sebagai lingua franca (bahasa pengantar). Apakah dimulai dari bahasa yang kacau, karena berawal dari bahasa pasar/perdagangan, akibat pengaruh bahasa-bahasa  asing. Bahasa Melayu sebagai akar bahasa Indonesia digagas oleh Sanusi Pane. Melayu yang dimaksud adalah Melayu yang lebih kuno, yang menyebar pada masa yang lebih tua ke seluruh Indonesia yang kemudian berkembang menjadi berbagai suku yang mendiami seluruh Indonesia.

Defri Elias Simatupang menyampaikan Barus terlalu panjang untuk dilihat dari sudut pandang manapun. Isunya sudah diangkat oleh Balai Bahasa Sumatera Utara, dengan undang-undang pemajuan kebudayaan  tentunya akan memudahkan kita untuk mengelola hal ini. Negara kita sudah melewati fase Negara ketiga. Kita tidak lagi kelaparan, sehingga concern Negara bisa dinaikkan tarafnya untuk mengembangkan kebudayaan. Saya rasa, untuk membahas Barus, lebih baik dititikberatkan ke topik yang diangkat oleh balai bahasa.

Tamu undangan menyampaikan mendiskusikan soal Barus tidak bisa dipisahkan dari konteks keagamaan dan perdagangan. Jadi semua bangsa datang ke sana untuk menawarkan komoditi. Jika kita membahas soal Melayu, bisa ditarik lebih jauh lagi ke era Sriwijaya yang pengaruh dagangnya mencapai Jawa dan Aceh. Saat ini di daerah Karo ada marga yang bernama Barus yang bisa saja memiliki kaitan dengan daerah Barus. Permasalahan asal bahasa memang cukup rumit karena sebelumnya klaim bahwa bahasa Indonesia disebut berasal dari Riau juga disusun berdasarkan penelitian pemerintah, meskipun penelitian ini disusun untuk meredam gejolak politik dimana Riau saat itu ingin memisahkan diri dari Indonesia. Pada tahun 1917 Balai Pustaka memang memisahkan antara bahasa Melayu tinggi yang dikuasai Riau serta bahasa Melayu rendah yang dikuasai Cina peranakan. Jika kita memang mau membedakan bahasa Melayu pesisir timur dan barat, harusnya karya sastra yang diteliti lebih banyak lagi, tidak hanya karya Hamzah Fansuri saja.

Thompson menyampaikan sudah muncul ide festival kota tua Barus, setidaknya pada tahun 2020.

Hendryk Tumanggor menyampaikan sebenarnya yang lebih layak hadir di sini adalah pimpinan  saya, namun sebagai staff saya akan coba mewakili. Harapan kami di dinas kebudayaan, bulan November tahun 2020 ini akan diadakan festival kota tua Barus. Selain itu, Barus akan jadi tuan rumah Jalur Rempah. Kami akan kedatangan KRI Dewa Ruci. Harapannya, peneliti, pemda, dan masyarakat Barus dapat mengembangkan pengetahuan mengenai Barus yang lebih factual dan ilmiah.

Maryanto kembali menyampaikan kami memiliki ide itu mengadakan Obor Barus, estafet dari 1 titik ke titik lain untuk menandakan perkembangan budaya Indonesia. Meskipun saat ini kita membahas mengenai kebudayaan, namun pada akhirnya hal ini bermuara pada geo-politik. Beberapa pihak mencoba masuk lewat budaya untuk mengklaim wilayah-wilayah Indonesia. Dengan fakta baru ini, seluruh pihak harus bersinergi, apalagi gubernur sumut juga memiliki visi Sumut Bermartabat. Jika kita bermimpi menjadikan Indonesia sebagai bahasa internasional, maka kita para peneliti harus memberikan akar yang kuat, nah Barus ini adalah kuncinya.

Idris menyampaikan Barus itu harus dijadikan pusat kebudayaan Melayu. BPNB harus menyiapkan dana untuk mengembangkan budaya Melayu di pesisir barat Sumatra. Hal ini bisa kita lihat juga tanaman Barus dan Kemenyan yang sulit tumbuh di lingkungan berbeda. Mungkin bisa kita beri ide pemerintah untuk mencabut izin eksport kemenyan dari Semarang dan memindahkannya ke Sibolga dalam rangka menguatkan identitas Barus sebagai pusat tertua Indonesia. Tapteng dan Tapsel punya komoditas yang sangat langka, seperti kemenyan yang digunakan di seluruh gereja katholik di dunia. Nah budaya itu diangkat, bersamaan dengan ekonomi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *