Balai Arkeologi Sumatera Utara Terbitkan Buku Kehidupan Orang Gayo Prasejarah, Begini Kisahnya

Hits: 14

Repost

Kisah inilah yang ditampilkan dalam sebuah buku bergambar yang diterbitkan Balai Arkeologi Sumatera Utara.

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS COM, JAKARTA – Bagaimana kehidupan orang Gayo masa prasejarah?

Buku tersebut berjudul “Orang Gayo di Masa Lalu.” Buku cetakan pertama terbit pada 2019.

Ketua Tim Peneliti yang juga Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara, Dr Ketut Wiradnyana, MSi, mengatakan penelitian yang mereka kerjakan sudah selesai.

Penelitian berlangsung selama 10 tahun. Isi buku ini merupakan hasil penelitian arkeologis yang dilakukan Balai Arkeologi Sumatera Utara di Tanah Gayo.

Menurut Ketut, buku ini diperuntukkan bagi anak-anak sekolah dasar. Makanya diberi gambar yang banyak dengan narasi singkat, namun informatif. 

Buku ini menceritakan tentang kedatangan tiga kelompok manusia yang membawa budaya berbeda ke Dataran Tinggi Gayo pada era mesolitikum (zaman batu pertengahan) sampai era klasik.

Disebutkan pada 12000 tahun lalu Pulau Sumatera sudah dihuni oleh manusia  dengan postur tubuh tegap dan memilih tinggal di pinggir pantai.

Lama kelamaan, karena kekurangan bahan makanan kelompok manusia ini mencari hunian baru dengan panduan sungai, sampai ke daerah pedalaman. 

Hingga suatu ketika kelompok ini mencapai gua atau Loyang Mendale yang berada di tepi Danau Laut Tawar, Aceh Tengah sekarang.

Memilih Loyang Mendale sebagai tempat hunia karena guanya luas dan terlindung, serta dekat dengan sumber air dan makanan.

Kelompok ini membuat beberapa peralatan yang dapat mendukung kehidupan mereka, memanfaatkan batu, kayu dan sisa tulang binatang  maupun cangkang kerang.

Mereka juga sudah mengenal api untuk mengolah makanan. Mereka membuat kapak dari batu kali, dan ada kalanya menambahkan tangkai dari kayu untuk memudahkan memegang dan menggunakannya.

Mereka juga membuat jarum dari tulang binatang. Mereka  membuat peralatan berburu seperti tombak maupun mata panah dari batu. 

Kemudian pada kisaran 5.000 tahun silam datang kelompok kedua dengan postur tubuh berbeda dari kelompok pertama. 

Membawa budaya berbeda. Kelompok kedua ini  adalah penutur bahasa Austronesia. Mereka menggunakan peralatan baru, seperti gerabah atau tembikar dan anyaman.

Menurut Dr Ketut, kelompok pertama dan kelompok kedua hidup saling berbaur dan dengan damai di Loyang Mendale.

“Kelompok manusia Austronesia ini telah memiliki kemahiran membuat pola hias dengan cat warna merah pada tembikar,” lanjut Dr Ketut.

Tembikar-tembikar itu ada yang dihias dengan cara digores. Tembikar merupakan salah satu wadah  tempat air, tempat makanan dan keperluan religi.

Kelompok ini sudah lebih mahir membuat peralatan berburu. Kapak yang mereka buat  telah digosok lebih halus dan bertangkai.

Mereka membuat berbagai perhiasan dari kulit kerang berupa manik-manik dan gigi hewan.

Manik-manik itu dibuat dengan cara melubangi kulit kerang atau tulang binatang dan dirangkai menjadi kalung  dan gelang.

Ketika ada yang meninggal dunia, mereka perlakukan seperti manusia saat hidup.

Kuburnya ada yang berbentuk oval dan melipatkan kaki mayat saat dikubur.

Peneliti Balai Arkeologi Sumut menemukan beberapa model cara penguburan.

Selanjutnya, tambah Dr Ketut, pada kisaran 3000 tahun lalu terjadi bencana letusan gunung berapi.

Penghuni Loyang Mendale mencari tempat hunian baru di seberang Danau Laut Tawar.

Saat letusan sudah reda mereka kembali lagi ke tempat hunian awal di Mendale 

Berikutnya datang kelompok manusia ketiga pada 2000 tahun silam. Mereka juga tinggal di beberapa ceruk atau gua di tepi Danau Laut Tawar.

Sebagai mana kelomok pertama dan kedua, manusia kelompok ketiga ini juga memiliki cara hidup yang sama.

Berburu, menangkap ikan dan menanam umbi-umbian. Hanya saja kelompok ketiga ini sudah lebih  maju dalam membuat tembikar dan anyaman-anyaman.

Terutama dalam menghias tembikar dengan cara poles dan gores.

Berbagai bentuk wadah tembikar yang dihasilkan memiliki ciri  polas hias tersendiri dengan cara menghiasai seluruh bagian tembikar.

Dr Ketut menyebutkan baik kelompok pertama, kedua dan ketiga, sama-sama hidup berdampingan.

Kebudayaannya saling berbaur. 

“Kelompok-lelompok inilah yang kemudian membentuk etnis Gayo yang hidup sampai sekarang di wilayah budaya Gayo,” demikian Dr Ketut Wiradnyana.

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Mursal Ismail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *