Balai Arkeologi Sumatera Utara lakukan Survei Arkeologi di pesisir utara Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau

Hits: 121

Repost

Balai Arkeologi Sumatera Utara lakukan Survei Arkeologi di pesisir utara Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau

BPCB Aceh, 04/03/2019. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh ikut serta dalam kegiatan survei arkeologi di pesisir utara Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau yang dilaksanakan Balai Arkeologi (Balar) Sumatera Utara. Kepala BPCB Aceh, Bambang Sakti Wiku Atmojo, mengutus seorang staf untuk berpartisipasi atas nama Ambo Asse Ajis yang akan bekerja dari tanggal 1 sampai dengan 11 April Tahun 2019 di Desa Pengudang, Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Selain BPCB Aceh, Balar Sumatera Utara  juga mengikutsertakan dan melibatkan BPCB Batu Sangkar, Dinas kebudayaan Provinsi Riau dan Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau.

Menurut Ketua Tim Penelitian, Stanov Purnawibowo, kegiatan survei arkeologi di pesisir utara Pulau Bintan, provinsi Kepulauan Riau memfokuskan 2 (dua) objek, yaitu kegiatan survei bawah laut dan survei daratan.

Nilai Penting Desa Pengudang dan hubungannya dengan sejarah Kawasan maritim Nusantara

Secara keletakan, Desa Pengudang secara khusus dan kawasan Kepulauan Bintan secara umum, masuk dalam wilayah kesultanan Riau-Lingga. Kawasan ini merupakan satu dari sumber ekonomi kesultanan yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kepulauan Riau serta dinamika perkembangan Selat Malaka. Secara historis, kedudukan areal geografisnya telah di catat sangat baik dalam kitab Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji yang di tulis pada Tahun 1885.  Dalam kitab ini termuat dinamika kejadian di berbagai negeri Melayu yang berlangsung pada abad ke-18 sampai dengan 19 Masehi.

Jauh sebelum kehidupan abad ke-18 dan 19 Masehi di atas, jejak arkeologis menunjukan bahwa wilayah ini  masuk dalam lintasan pelayaran jarak jauh yang melibatkan bangsa asing, seperti: Arab, India, Cina dan Eropa.

Bukti arkeologis tertua tentang  lalu lintas pelayaran di Selat malaka ini berasal dari keberadaan situs kapal karam dari Punjulharjo di Rembang yang berasal dari abad ke-7 Masehi. Kemudian situs bawah air yang di kenal  dengan nama Situs Tang Cargo atau juga disebut Belitung Wreck yang berasal dari abad ke-9 Masehi dan tinggalan abwah air dari kapal Arab yang karam di Perairan Pulau Belitung ketika mengangkut komoditas keramik Tiongkok pada masa Dinasti Tang sekitar abad 8 Masehi (Flecker, 2000; Mochtar, 2016; Adhityatama dan Sulistyarto, 2016).  Ambo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *