Anggota DPRD Tapanuli Tengah Konsultasi dan Koordinasi ke Balar Sumut terkait Situs Cagar Budaya di Daerahnya

Hits: 123

Foto bersama Komisi A DPRD Kab. Tapanuli Tengah dengan Kasubbag TU Balar Sumut dan Narasumber Peneliti Balar Sumut dalam kegiatan kunjungan kerja Komisi A DPRD Kab. Tapanuli Tengah ke Balar Sumut pada Kamis (14/10/2021)

Kamis, 14 Oktober 2021, Komisi A DPRD Kabupaten Tapanuli Tengah kunjungan kerja ke Balai Arkeologi Sumatera Utara. Kunjungan tersebut dihadiri oleh sebelas anggota Dewan dalam rangka konsultasi dan koordinasi tentang Situs Cagar Budaya yang berada di daerah Tapanuli Tengah.

Kasubbag TU Balar Sumut Dra. Hj. Nurlela, M.AP dan Wakil Ketua Komisi A DPRD Kab. Tapanuli Tengah Imam Safi’i Simatupang, SE dalam kegiatan kunjungan kerja Komisi A DPRD Kab. Tapanuli Tengah ke Balar Sumut pada Kamis (14/10/2021)

Pada kesempatan ini Kasubbag TU Balar Sumut Dra. Hj. Nurlela, M.AP membuka kegiatan dan menyampaikan bahwa sesuai dengan surat yang masuk dari DPRD Kabupaten Tapanuli Tengah perihal Konsultasi dan Koordinasi Situs Cagar Budaya yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah. Mengenai hal-hal yang berkaitan dengan situs cagar budaya selanjutnya akan disampaikan oleh peneliti Balai Arkeologi Sumatera Utara.

Selanjutnya Imam Safi’i Simatupang, SE selaku Wakil Ketua Komisi A menyampaikan bahwa maksud kedatangan kami ke Balai Arkeologi Sumatera Utara untuk mengetahui sejauh mana situs cagar budaya yang sudah tercatat oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara di daerah Tapanuli Tengah dan apa saja yang belum tercatat agar bisa kami koneksikan. Hal ini penting karena beberapa waktu yang lalu Presiden Republik Indonesia, Bapak Jokowi sudah meresmikan titik O KM di Tapanuli Tengah. Selain itu pentingnya pencatatan data terkait situs cagar budaya agar dapat diketahui oleh masyarakat khususnya di Tapanuli Tengah agar generasi penerus juga tau akan kebudayaan di daerahnya sehingga kelestariannya dari situs itu sendiri akan terjaga.

Peneliti Balar Sumut Dr. Ery Soedewo, M. Hum sampaikan paparan materi terkait situs Bongal dalam kegiatan kunjungan kerja Komisi A DPRD Kab. Tapanuli Tengah ke Balar Sumut pada Kamis (14/10/2021)

Kemudian Dr. Ery Soedewo, M.Hum selaku peneliti Balai Arkeologi Sumatera Utara memaparkan materi terkait situs cagar budaya di Tapanuli Tengah. Dalam paparannya menyampaikan bahwa ketika membicarakan Tapanuli Tengah, yang sering terlintas pertama selalu Barus. Kenapa? Karena di sana memang data historis itu menunjukkan dari abad pertanggalan masehi nama Barus sudah disebut dalam sumber Yunani Kuno. Ada nama Barus kemudian masa yang lebih muda lagi sumber-sumber India sudah menyebutkan itu, nusantara dan majapahit juga sudah menyebutnya. Kemudian terkait juga dengan masuknya agama-agama besar semua bisa dirunut di Barus. Sumber-sumber historis juga menyebut demikian. Baik Islam, Kristen, Hindu, maupun Budha semuanya historis maupun arkeologis bisa kita telusuri. Tapi belakangan ini yang menarik, penelitian di Barus sudah dilakukan secara intensif sejak tahun 1995 sampai 2005. Artinya sudah 10 tahun meliputi dua situs. Pertama di Lobu Tua tahun 1995 sampai tahun 2000,  kemudian situs berikutnya tahun 2001 sampai 2005 di Bukit Kasang.

Disimpulkan bahwa berdasar data arkeologis, bukti tertua peradaban Barus di Lobu Tua sampai Bukit Kasang berlangsung dari abad ke 8 dan 9 M, sampai yang paling muda yaitu abad ke 17. Artinya tahun 1600 sekian ada gap antara historis dan arkeologis. Historis menyebut Barus abad pertama masehi sudah ada. Sementara secara arkeologis data artefaknya baru muncul abad ke 9 masehi. Pasti ada sesuatu yang terlewatkan. Kami mendapati satu petunjuk, ada satu situs tidak jauh dari Barus yang garis pantainya sama yaitu Desa Jago-Jago. Di bukit Bongal ini sudah pernah ditinjau tahun 2001. Waktu itu tim mendapatkan ada satu patung ganesha kurang lebih satu meteran kodisi sudah tidak utuh. Kemudian tahun 2019  kami mendapat surat dari Dinas Tapanuli Tengah untuk melakukan peninjauan di situs Jago-Jago, karena masyarakat yang melakukan penambangan emas banyak mendapatkan benda diduga cagar budaya, dan ini yang akan dipaparkan yang dianggap dapat mengubah tidak hanya sejarah Sumatera Utara tetapi sejarah Indonesia pada umumnya.

Temuan di situs Bongal berupa patung Ganesha, pada tahun 2019 kondisinya sudah sangat memprihatinkan, mengalami kerusakan yang diduga dilakukan oleh masyarakat. Langkah awal tim lakukan rekonstruksi kembali untuk mengembalikan kedalam bentuk semula tetapi tidak berhasil karena ada beberapa bagian yang tidak bisa ditemukan lagi. Ini merupakan data penting karena menunjukkan munculnya agama Hindu setidaknya abad ke 9 masehi.

Komisi A DPRD Kab. Tapanuli Tengah mendengarkan paparan yang disampaikan narasumber terkait situs Bongal dalam kegiatan kunjungan kerja Komisi A DPRD Kab. Tapanuli Tengah ke Balar Sumut pada Kamis (14/10/2021)

Gambaran kondisi situs Bongal ribuan tahun lalu dulu gambarnnya seperti ini, kemudian makin menyempit karena ada proses endapan.  Ini gambaran 10.000 tahun yang lalu seperti ini si Jago-Jago, kemudiaan 5.000 tahun yang lalu dan 3.000 tahun yang lalu seperti yang kita lihat sekarang. Ada daratan dulu di sana, dalam proses penelitian juga ditemukan lapisan tanah pada kotak gali atau eskavasi.

Lokasi kotak gali TP 1 sampai TP 5 dengan kedalaman mencapai lebih dari 3 meter dan ada temuan yang ditemukan lebih dari satu meter. Artinya aktivitas manusia yang lalu ditemukan di bawah satu meter lebih. Bisa dilihat daerah pasang surut, rawa-rawa. Kemudian temuan tonggak – tonggak gali yang ditemukan pada kedalaman lebih dari 3 meter yang merupakan bagian dari struktur bangunan. Kenapa disimpulkan begitu, karena dia menopang satu struktur yang besar. Kita belum tau fungsi bangunannya seperti apa? apakah dermaga atau rumah.

Rekonstruksi sementara batang limbung ada vertikal dan horizontal. Lokasi penggalian berada di dekat patung ganesha, di lokasi ini ditemukan keramik dari dinasti Sung sampai dinasti Ming. Di lokasi ini juga ditemukan batang limbung dengan tali hijau digunakan untuk pertanggalan. Dari temuan ini ditemukan benda buatan manusia berupa keramik dari dinasti Tang yang diperkirakan abad ke 8 sampai 9 masehi. Kemudian ada gerabah yang  ditelusuri merupakan gerabah import dari India, karena bentuknya sama persis dengan yang  ditemukan di Barus. Kemudian ada peralatan kehidupan sehari-hari berupa jarum, tembaga, timah, perunggu. Benda lain ada gelas dan wadah dari kaca, benda ini di import dari Timur Tengah. Kemudian ditemukan jalinan hijau, tali, yang digunakan untuk perahu atau kapal. Kemudian temuan tempurung kelapa beberapa diantaranya ada lobang.

Temuan lain yang didapatkan berupa jenis rempah yang diidentifikasi berupa pinang dan pala. Pala selama ini identik dengan masa penjajahan Belanda. Hasil pertanggalannya jauh lebih tua dari masa kedatangan Belanda, artinya perdagangan rempah dari Maluku sampai pantai barat Sumatera sudah berlaku jauh sebelum masuknya bangsa Eropa. Bentuk rempah yang lain seperti kemiri, kemudiaan buah kepayang yang di Jawa untuk bumbu masakan rawon, juga ditemukan jali-jali dan biji buah manga.

Dari beberapa sampel yang dikirimkan ke laboratorium New Zealand, data tertua berasal dari abad ke 6 masehi berupa artefak kayu. Artinya abad ke 6 ini artefak sudah buatan manusia dan ini mendahului artefak tertua yang ditemukan di Barus di situs lobu Tua. Disana data tertua baru abad 9 masehi. Ada gap yang lebih tua di Bongal. Selain itu temuan berupa tali ijuk yang digunakan untuk mengikat perahu, hasil labnya menunjukkan antara tahun 663 sampai 778 masehi. Artinya abad ke 7 sampai 8 masehi membuktikan Bongal lebih tua dari Barus sekitar 2 abad. Kemudian papan kayu yang bertuliskan huruf palawa disertai pertanggalan, untuk lebih meyakinkan diambil potongan kayu ini dan dikirimkan untuk dianalisis ke New Zealand. Jatuhnya sama seperti tali hijau tadi, sekali lagi ini membuktikan bahwa Bongal lebih tua dari Barus berdasarkan bukti arkeologis.

Kemudian temuan berupa sisir yang berasal dari abad ke 6 masehi. Di Bongal  ditemukan bukti, mungkin yang dimaksud oleh para penjelajah nusantara bisa ditujukan ke SItus Bongal. Karena di sini menunjukkan bukti kehadiran Islam di nusantara dengan ditemukannya koin dari masa dinasti Umayyah tahun 75 – 95 Hijriah masehinya jatuh pada tahun 694 – 713 Masehi.  Artinya abad ke 7 sampai 8 masehi bertepatan dengan abad pertama hijriah. temuan lain berupa koin dari masa dinasti Abbasiyah abad ke 8 masehi. Bukti kehadiran Islam di Nusantara nanti pasti akan merujuk pada penemuan hasil penelitian di situs Bongal. Jadi apa yang selama ini disampaikan terkait masuknya Islam ke nusantara berkaitan dengan teori para ahli, khususnya sarjana barat, khususnya lagi orang Belanda, bahwa Islam masuk nusantara abad ke12 atau 13, sudah bisa dimentahkan dengan data itu. Dan ini memperkuat pendapat almarhum Buya Hamka bahwa Islam hadir sejak satu hijriah. Sayangnya, belum didapatkan data atau bukti secara arkeologis. Dengan ditemukan ini, memperkuat apa yang disampaikan almarhum Buya Hamka terakit masuknya Islam di Nusantara.

Temuan berupa alat untuk menyuling minyak. Ini merujuk dari catatan Arab. Bukti lain interaksi dengan kawasan Asia Barat, ada guci dari Persia Iran. Kemudian ini juga menunjukkan interaksi dengan kawasan India dengan adanya prasasti beraksara Pasca Pallawa, atau huruf Sumatera Kuno, ini menarik karena bertemu dua unsur Bahasa yaitu Bahasa Sansekerta dan Melayu Kuno. Jadi Bongal adalah situs heterogen, dimana banyak pertemuan orang-orang dengan latar belakang berbeda-beda. Disini juga ada beraksara sansekerta dengan tanggal. Bukti lain kehadiran agama Hindu Buddha di sana ada Wajra, wajra itu seperti trisula bermata ganda kemudian archa Buddha dan miniatur Mandala.

Bukti lain interaksi mancanegara dengan Asia Timur, khususnya dari China ini ditemukan keramik sancai ditemukan di Barus. Bukti lain berupa koin dari China. Sisa fauna yang dikonsumsi masyarakat seperti babi hutan, kerbau, kemudian ada juga tulang kambing. Temuan selain rempah-rempah antara lain resin, damar, kemenyan, kemdian ada juga kampar yang belum teridentifikasi.

Temuan lain yaitu bentuk interaksi secara niaga berupa alat timbangan. Kemudian memakai apa orang-orang mancanegara sampai di nusantara? disitu ditemukan perahu kuno yang saat ini sudah disimpan di Dinas Pendidikan. Kemudian ada juga disimpan di galeri Desa Bongal. Dan yang perlu menjadi perhatian adalah benda diduga cagar budaya yang ditemukan tidak sengaja oleh aktivitas penggalian masyarakat. Aktivitas ini lah yang dikhawatirkan akan merusak situs Bongal karena masyarkat aktif manambang walaupun sudah keluar surat Bupati untuk menghentikan aktivitas tambang.

Potensi yang bisa dikembangkan terkait dengan temuan di situs Bongal, coba bandingkan apa yang ada di Indonesia dan di Filipina. di daerah Jawa ada sisa perahu yang berasal dari abad 7 masehi, sejaman dengan situs Bongal. Masyarakat terbuka untuk melapor, bisa diselamatkan dan menjadi daya tarik wisata Jawa Tengah. Juga ditemukan tali-tali hijau sama seperti dengan di situs Bongal, tetapi di Bongal belum tuntas.

Situs buatan di pulau Mindanau Filipina, pertanggalannya lebih muda antara abad 10 sampai 16 masehi. Mereka melakukan eskavasi yang kemudian di display di museum situs di sana dan menjadi objek wisata. Sementara apa yang bisa  ditarik dari hasil penelitian dan prospek situs Bongal, bahwa ada aktivias manusia yang berlansung dari abad 6 sampai 10 masehi. Komoditas alam yang ditemukan di ekspor melalui pelabuhan situs Bongal. Kemduian artefak mancanegara juga hadir di situs Bongal ini. Apa yang ditemukan di sana ini jelas akan mengubah historigrafi Indonesia bahkan dunia. Kedepan kami harapkan bisa diselamatkan dan menjadi objek wisata berbasis sejarah budaya. Harapannya pihak dinas dan pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah bisa mewujudkan satu site museum atau museum di Jago-Jago dan bisa bersinergi antara  stakeholder yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah untuk menyelematkan dan melestraikan situs Bongal di Desa Jago-Jago.

Setelah pemaparan oleh narasumber, kegiatan ini dilanjutkan dengan diskusi atau tanya jawab dengan tujuan untuk memberikan ruang bagi peserta yang notabene berasal dari Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Tapanuli Tengah untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahui sekaligus memberikan tanggapan ataupun tambahan informasi terkait sejarah budaya dan tinggalan arkeologi di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah dan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *