Menu Tutup

Hits: 42

Laporan kinerja Balai Arkeologi Sumatera Utara tahun 2018 menyajikan tingkat pencapaian 1 (satu) sasaran strategis dengan 5 (lima) indikator kinerja sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja tahun 2018. Sasaran Strategis (SS) Balai Arkeologi Sumatera Utara adalah meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat akan arti pentingnya tinggalan arkeologis dalam kehidupan masa lampau, masa kini, dan masa mendatang untuk mendukung kemajuan ilmu pengetahuan serta terwujudnya karakter dan jati diri bangsa. Indikator Kinerjanya, yaitu Jumlah dokumen hasil penelitian arkeologi lintas disiplin dan tematis, serta jumlah rumusan kebijakan dan rekomendasi penelitian dan pengembangan arkeologi, kerja sama kemitraan di wilayah kerja; Jumlah rumah peradaban sebagai media pemanfaatan hasil penelitian arkeologi; Jumlah dokumen Informasi hasil penelitian dan pengembangan arkeologi; Jumlah dokumen perencanaan dan anggaran, keuangan, kepegawaian, BMN dan evaluasi kinerja yang sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku; serta Jumlah bulan untuk layanan perkantoran. Tingkat ketercapaian dan ketidakcapaian indikator kinerja lebih detail diuraikan pada Bab III.


Secara umum, capaian kinerjanya adalah Rp 8.053.310.678,00 dari keseluruhan anggaran Rp 8.807.417.000,00. Prosentase realisasi kinerja keuangan Balai Arkeologi Sumatera Utara tahun 2018 adalah 91,44%.

 

Beberapa permasalahan/kendala yang dihadapi dalam upaya pencapaian target antara lain:

  1. Masih banyak tinggalan budaya masa lampau yang belum tersentuh karena berbagai faktor keterbatasan terutama SDM, anggaran, dan peralatan;
  2. Situs dan tinggalan arkeologis pada umumnya berada di wilayah terpencil atau wilayah yang sulit dijangkau alat transportasi sehingga berdampak terhadap
    besarnya biaya eksplorasi dalam kegiatan penelitian yang dilakukan;
  3. Pengembangan hasil penelitian arkeologi belum maksimal;
  4. Penyebarluasan informasi hasil penelitian arkeologi belum maksimal;
  5. Kerjasama kemitraan di wilayah kerja belum terjalin dengan baik, sehingga
    penanganan sumberdaya arkeologi masih berdasarkan kepentingan masingmasing lembaga/ institusi (pemangku kepentingan);
  6. Peran serta masyarakat belum sesuai dengan harapan terutama dalam upaya
    perlindungan terhadap kemungkinan rusak dan hilangnya benda-benda tinggalan arkeologi karena tindakan manusia;
  7. Kurang tepatnya perencanaan anggaran penelitian, sehingga berdampak pada penyerapan anggaran dan meningkatnya pengembalian ke KAS Negara pada akhir tahun berjalan.

 

Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan/kendala yang muncul antara lain :

  1. Mengajukan formasi/kebutuhan CPNS dan memperbantukan/mempekerjakan
    beberapa pegawai honorer;
  2. Mengadakan/membeli beberapa peralatan perkantoran dan peralatan penelitian
    untuk mendukung kelancaran kerja pegawai;
  3. Mencoba merancang RAB penelitian dengan lebih matang untuk tahun berikutnya;
  4. Mengadakan acara FGD dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar tempat
    penelitian tentang tujuan dan manfaat penelitian arkeologi bagi kemajuan dan
    pelestarian budaya lokal di daerahnya. Melalui informasi yang baik dan benar
    diharapkan masyarakat dapat memahami, mengapresiasi, dan yang sangat
    penting adalah ikut serta dalam pembangunan. Masyarakat bukan hanya sebagai
    objek (sasaran) pembangunan tetapi juga sebagai subjek (pelaku) pembangunan
    itu sendiri;
  5. Menjalin kerjasama lintas disiplin dengan berbagai bidang keilmuan, dimulai
    dengan mengundang para ahli/akademisi dari berbagai jurusan terkait untuk hadir
    dan memberikan saran/masukan dalah Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (EHPA).

 

Revisi_LAKIP-2018-Balar-Sumut